Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryJul 11, '11 9:17 AM
for everyone
Dipastikan generasi muda sekarang mungkin banyak yang tak mengenal AKA.Mereka bisa jadi mengetahui AKA sebatas nama belaka.Nama yang sering disebut sebagai salah satu kelompok rock yang begitu menjamur jumlahnya di era 70-an dan kerap menyodorkan aksi panggung yang super gila-gilaan.Saat itu AKA yang berasal dari Surabaya jawa Timur itu  oleh majalah Aktuil Bandung ditahbiskan sebagai kelompok underground.Kerap disejajarkan dengan Black Sabbath.Mungkin karena aksi panggungnya yang teaterikal semisal mengusung peti mati plus ambulance rumah sakit yang meraungkan sirene di sekitar pentas pertunjukan.Bahkan sang terdepan AKA Utjok Harahap kerap mempertontonkan adegan penyiksaan seperti digantung sambil dicambuk dengan sebilah cemeti yang menggelegar.Termasuk atraksi vulgar maaf…bersanggama dengan organ Farfisa yang dimiringkan .Keplok applause pun membahana.

Semua kisah tentang AKA pada akhirnya bak sahibul hikayat.Hingga muncullah album kompilasi bertajuk “AKA Hard Beat” yang direissue oleh Jason “Mosh” Connoy orang Kanada pemilik label Strawberry Rain.Album ini dirilis dalam format compact disc dan vinyl.Berisikan 14 track karya AKA berbahasa Inggeris yang diambil dari album album AKA yang dirilis Indra Record antara 1971 dan 1977 seperti “Do What You Like”,”Reflections”,”Crazy Joe”,”Sky Rider”,”Cruel Sides Of Suez War” maupun “Mr.Bulldog”  serta satu track berbahasa Indonesia “AKA Untukmu” dari album

Soenatha Tandjung dan Utjok Harahap

” (1977)

Lagu lagu tadi memang bernafaskan rock.Jason Connoy memang memilih ke 14 track itu dari lagu-lagu AKA yang betul betul berkonotasi rock.Album album AKA yang dirilis Indra Record serta Remaco di era 70-an sebetulnya tidak murni rock,karena dengan alasan tuntutan pasar,AKA mamu berkompromi menulis lagu bercorak pop seperti “Badai Bulan Desember” yang sepintas mirip lagu Bee Gees “How Cajn You Mend A Broken Heart”.

Nah disetiap album album AKA itu selalu muncul lagu-lagu berkonotasi rock yang menggelegar sekitar 2 atau 4 lagu.Lagu lagu itulah yang kemudian diseleksi Jason di dalam album “AKA Hard Beat” ini seperti “Suez War” yang intronya sepintas mirip “Aqualung” nya Jethro Tull hingga “Shake Me” yang beratmosfer funk ala James Brown dan jangan lupa ada lagu “Do What You Like”  yang dulu kerap dibawakan di panggung dan kabarnya pernah diputar di radio Australia pada paruh era 70-an.

Menariknya bahwa saat itu Indonesian rock scene memang tengah dipengaruhi hard rock,prog rock dan funk soul.Jadi tak heran jika kiblat tata musik AKA juga mengacu ke sana.Simak saja petika gitar elektrik Soenatha Tanjung yang banyak dipengaruhi gaya Jimmy Page,Jimi Hendrix serta Richie Blackmore.Utjok Harahap sendiri banyak melakukan screaming yang merupakan perpaduan antara The Crazy World of Arthur Brown dan James Brown   .

Permainan bass Arthur Kaunang pun sangat inspiratif.Dia bagaikan bunglon yang bisa berubah perangai dari rock blues ke funk yang soulful.Saya menduga Arthur sangat terpengaruh dengan pola permainan bass Mel Schacher dari Grand Funk Rail Road. Dan pola drumming Syech Abidin sangat akurat dan luamyan berkarakter.

Lirik lagu yang ditulis AKA dalam bahasa Inggeris pun mengajukan ragam tema,mulai dari ikhwal perang di Teluk Suez  pada “Suez War” hingga tentang manajer mereka sendiri Jauhari dalam lagu “Crazy Joe”.

Dengan didukung studio rekaman berfasilitas 4 track AKA memang telah berbuat sesuatu untuk musik rock Indonesia saat itu.Kualitas rekaman yang kurang memadai itu juga yang menyulitkan Jason Connoy dkk untuk meremastered karya karya AKA yang mengambil source bukan dari reel masters tetapi dari vinyl yang diperoleh Connoy di antara tumpukan vinyl yang dijajakan pedagang di Jalan Surabaya sejak 12 tahun silam.

Jika dipanggung AKA lebih banyak tampil sebagai impersonator yang terlatih,maka dalam album rekaman mereka sangat terampil meracik komposisi plus arransemen.Silakan simak track track bergizi seperti Crazy Joe,Sky Rider,Reflections,Open Doors,Groovy,Mr Bull Dog  maupun Glenmore,sebuah judul yang diambil dari sebuah desa di Jawa Timur.

Agak disayangkan,album ini hanya mengambil track track AKA yang berkategori “HardBeat”,tapi toh tidak mengurangi impresi kita terhadap kekuatan band rock Indonesia masa silam. Setidaknya jejak artefak music rock Indonesia masih bias terlacak lewat album kompilasi yang justeru digagas oleh orang Kanada.

Tracklist

1.Do What You Like

2.Glenmore

3.Reflections

4.We’ve Got It Work It Out

5.Cruel Side

6.Groovy

7,Suez War

8.Mr Bulldog

9.Shake Me

10.Only One Man

11.Crazy Joe

12.Skip Awaya

13.Open Doors

14.Sky Rider

15.AKA Untukmu

Denny Sakrie


Blog EntryJul 11, '11 8:32 AM
for everyone

Setiawan Djody kembali memetik gitar,kembali menulis lagu,kembali bernyanyi.Ini pertanda bagus.Belakangan ini bersama sahabat sahabatnya Setiawan Djody kerap bernyanyi di karaoke.Lalu ikut menyumbang lagu saat menikmati secawan kopi di sebuah kafe.Bahkan 30 Juni silam Djody ikut tampil di atas pentas Hard Rock Café Jakarta dalam acara bertajuk #Retweet yang menampilkan KJP,Fariz RM dan Once.Di acara itu saya menjadi pemandu acara.Sebelum memainkan lagu bersama dukungan Totok Tewel (gitar),Doddy Keswara Katamsi (vokal),Tony Roxx (bass),Edi Daromi (keyboards) serta dua drummer Ikmal Tobing dan Bakar Muftein ,saya bertanya ke Setiawan Djody :”Apa yang membuat anda tertarik kembali bermusik”.Dengan senyum yang menyunggging Djody berkata lirih :”Karena musik adalah hidup saya.Musik adalah jiwa saya”.Jrenggg.Malam itu Setiawan Djody seperti tengah melakukan sebuah pemanasan dari sesuatu yang akan digarapanya lagi dalam bentuk kolosal seperti yang pernah dilakukannya di tahun 1990 melalui medium Kantata Takwa.

Sejak bulan lalu saya terlibat beberapa perbincangan dengan Setiawan Djody.Bukan perbincangan formal dan berat.Tapi lebih kesebuah silaturahmi yang telah sekian lama berjarak.Dalam sebuah percakapan di restauran Mandarin di kawasan Pecenongan yang juga dihadiri Once dan beberapa kawan lain,Setiawan Djody bertutur tentang niatnya untuk kembali di pelataran musik Indonesia.”Sudah saatnya saya kembali” ungkapnya lirih sembari tersenyum.

“Saya sudah merencanakan untuk menghidupkan lagi Kantata Takwa.Tapi kali ini dengan nama Kantata Baroque” tukasnya.

“Kenapa tidak Kantata Takwa saja mas ?” sergah saya.

“Nama Takwa itu terlalu berat.Jadi saya malah tertarik untuk menggantinya dengan Baroque.Baroque itu adalah sebuah pencapaian seni.Dulu saya sempat merasa aneh ketika Jabo memberi nama grupnya Sirkus Baroque” imbuhnya lagi.

Memang belakangan ini Setiawan Djody,sang maesenas ini banyak melakukan pemanasan.Diantaranya adalah ikut tampil dalam konser Sirkus Baroque yang digelar di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Mei lalu.

“Itu sebetulnya hanya spontanitas saja.Jabo menarik saya ke pentas untuk bernyanyi.Iwan juga ditarik Jabo ke atas pentas.Lalu ada Naniel.Dan kita kemudian membawakan Bento.Sambutan malam itu membuat saya yakin” kata Setiawan Djody yang rambutnya telah putih keperakan.

Tanggal 23 Juni 2011 silam lalu saya berada di rumah kediaman Setiawan Djody yang terletak dikawasan Kemanggisan Jakarta.Saat itu ada KJP dan Once yang melakukan latihan untuk konser #Retweet bersama Setiawan Djody.

Perbincangan pun berlanjut.Secara kebetulan malam itu mengingatkan saya pada kehebohan Kantata Takwa yang tampil secara kolosal di Stadion Senayan Jakarta (sekarang Gelora Bung Karno) tepat pada tanggal yang sama 23 Juni 1990.Setiawan Djody pun bertutur kilas balik tentang konser terbesar musik di Indonesia sepanjang zaman itu.

“Saat itu saya memang ingin melakukan semacam gerakan perubahan.Dan saya yakin itu bisa tercapai dengan musik” papar Setiawan Djody.

Konser yang juga diabadikan dalam film yang dibesut Erros Djarot dan Gotot Prakoso itu tak berlebihan jika dianggap sebagai sebuah milestone.Bukan lagi gerakan musik belaka tapi telah berubah menjadi gerakan budaya.

Setidaknya itu terlihat dalam Kantata Takwa yang melibatkan nama WS Rendra,Iwan Fals,Sawung Jabo,Yockie Surjoptajogo dan berderet-deret pemusik terbaik Indonesia saat itu.

Lagu lagu seperti Kantata Takwa,Kesaksian hingga Paman Doblang seperti ingin mengingatkan kita bahwa ada sesuatu yang menyimpang dari tatanan sosial politik di negeri ini yang saat itu dikendalikan rezim Orde Baru yang maha kuat dan super sakti.

Kesaksian Kantata Takwa itu kian diperkuat dengan dua lagu yang diambil dari kelompok Swami Bento dan Bongkar  yang didukung Iwan Fals,Sawung Jabo,Naniel,Nanu,Yockie Surjoprajogo,alamrahum Innisisri dan Setiawan Djody.

Lagu Bento dan Bongkar setidaknya sat itu menjadi semacam anthem rakyat yang tertindas.

Namaku Bento rumah real estate
Mobilku banyak harta berlimpah
Orang memanggilku bos eksekutive
Tokoh papan atas atas s’galanya asyik . . . . . . . . .
Wajahku ganteng banyak simpanan
Sekali lirik oke sajalah
Bisnisku menjagal jagal apa saja
Yang penting aku menang aku senang
Persetan orang susah karena aku
Yang penting asyik sekali lagi asyik . . . . . . .

Khotbah soal moral omong keadilan sarapan pagiku
Aksi tipu-tipu lobbying dan upeti oh . . . jagonya . .
Maling kelas teri bandit kelas coro itukan tong sampah
Siapa yang mau berguru datang padaku
Sebut tiga kali namaku Bento . . . .Bento . . . . Bento . . . . .
Asyik . . . . . . . ! ! ! ! ! ! Asyik . . . . . .

 

“Anda ikut dalam proses penciptaan lagu Bento.Sebetulnya siapa Bento itu ? ” tanya saya.

“Bento itu banyak di Indonesia.Bahkan lagu itu sebetulnya bisa juga merupakan kritik saya terhadap saya sendiri” papar Djody .

Bahkan untuk Kantata Baroque yang akan digelar kembali di Gelora Bung Karno pada November 2011 ini,lagu Bento akan dibawakan lagi dengan sedikit perubahan lirik dan judul lagunya diubah menjadi “Bento Barong”.

“Dalam Bento Barong liriknya antara lain saya ubah.Jika dulu “namaku Bento”,kini saya ubah jadi “Akulah Bento” ungkap Djody lagi.

Malam ini minggu 10 Juli 2011,Setiawan Djody melakukan silaturahmi di kediamannya bersama sejumlah pemusik dan juga jurnalis.”Sudah  lama saya tak melakukan kumpul kumpul dengan mereka” tutur Setiawan Djody .

Lalu kenapa saya melumuri judul tulisan ini dengan Return Of The Djody ? Karena entah kenapa usai berbincang bincang dengan Setiawan Djody saya teringat dengan salah satu sequel film fiksi ilmiah Star Wars bertajuk Return of The Jedi.

Jedi  adalah para anggota sebuah organisasi biarawan yang kuno dan luhur serta arif bijaksana, yang terkenal karena bakat mereka dalam menggunakan dan menghormati The Force. Dengan menggunakan benda-benda hidup di sekitar mereka untuk menggunakan The Force dan memainkan pedang cahaya khas mereka, para anggota Organisasi Jedi ini bertempur untuk mempertahankan kedamaian dan keadilan di Galactic Republic selama sekitar 20.000 hingga 25.000 tahun sebelum Perang Yavin.

Mungkin tak berlebihan jika Djody saya anggap sebagai Jedi.Djody tak menggunakan pedang cahaya,tapi gitar elektrik ya….representasi dari musik untuk menohok sejumlah ketimpangan dan keganjilan dalam konstelasi sosial maupun politik di negeri ini.

Ah….sudahlah jadi ngelantur ha ha ha.Yang jelas kembalinya Setiawan Djody menggamit pemusik seperti Iwan Fals dan yang lainnya moga-moga bukan sebuah pencitraan seperti yang dilakukan para pejabat pejabat negeri ini belakangan ini.

Denny Sakrie


Blog EntryJul 2, '11 1:27 AM
for everyone
"Fenomena",album terbaru Fariz RM  ditahun bersama Erwin Gutawa didukung Barry Likumahuwa,Nikita Dompas,Rayendra Sunito,juga lagu-lagu karya Glenn Fredly,Andre Dinuth,Pongki Barata & Bemby Noor akan dirilis dalam waktu dekat oleh Signature Music dan TASK.

Blog EntryJun 11, '11 2:11 AM
for everyone

Indra Lesmana kembali membuat kejutan membahagiakan buat musik Indonesia.Bersama kelompok trionya yang baru LLW,terdiri atas Indra Lesmana (piano,keyboard),Barry Likumahuwa (bass) dan Sandy Winarta (drums) merilis mini album bertajuk “Love Life Wisdom” secara digital di iTunes pada 25 April lalu.Tanpa dinyana,publik dunia penggemar jazz merespon pemunculan trio ini dengan mendownload minialbum yang terdiri atas 6 komposisi jazz ini.Di minggu pertama album yang digarap sejak tahun lalu itu menduduki peringkat 42 sebagai new entry album dalam Most Download Album Chart di iTunes.Diminggu ke dua turun ke peringkat 50 lalu melejit ke peringkat 18 dari 100 album yang dipantau iTunes dalam perolehan download.

Ini merupakan prestasi dahsyat di era musik digital sekarang ini.Keterpurukan khazanah musik Indonesia dengan terkuburnya penjualan fisik,pada akhirnya memiliki peluang lain dalam sebuah distribusi alternatif  yang futuristik.Sekaligus membuktikan bahwa industri musik bisa menjauh dari pintu kiamat.Lewat akun twitternya tanggal 13 Mei lalu Indra Lesmana menoreh sebuah quote yang menggelitik dan provoke  : Istilah “Go-International” sudah kadaluarsa sejak adanya Internet”.

Apa yang dituturkan Indra Lesmana itu bukan isapan jempol belaka,karena sejak berkembangnya jejaring sosial,music Indonesia sudah bertamasya ke penjuru dunia.Walaupun masih ada saja artis Indonesia yang masih menempuh cara cara kolot seperti ikut menumpang bernyanyi di album penyanyi asing untuk meraih paspor go international itu sendiri.

Indra Lesmana sendiri sebetulnya telah melakukan proses go international sejak era 80-an.Antara lain menetap di Sydney Australia untuk mengenyam pendidikan jazz sekaligus merilis beberapa album jazz bersama pemusik jazz Australia.Sosok Indra Lesmana pun disoroti dalam majalah jazz Amerika berpengaruh Down Beat.Puncaknya,di tahun 1984 dua album Indra Lesmana yaitu “Nebula” dan “For Earth and Heaven” dirilis oleh label Zebra/MCA Records.Sederet pemusik kualifiaid dunia mengiringi penampilan Indra Lesmana di album itu seperti Charlie Haden,Vinnie Colaiuta,Michael Landau.Airto Moreira,Jimmy Haslip,Joel Peskin,Tootie Heath,Bobby Shew dan banyak lagi.

Trio yang merupakan gabungan inisial nama belakang ketiga pemusiknya ini Lesmana,Likumahuwa dan Winarta ini terbentuk pada tanggal 21 April 2010.”Saat itu saya punya gagasan untuk melakukan semacam jam session atau workshop berkala yang dilakukan di kantor saya di Bintaro.Ternyata animonya banyak.Mereka sangat antusias terutama dari kalangan pemusik muda.Beberapa pemusik senior pun hadir seperti Donny Suhendra maupun Oele Pattiselano dan Benny Mustafa.Om Benny itu kan drummer ayah saya dulu” cerita Indra Lesmana yang saya temui di Inline Studio 6 Mei lalu bersama Barry Likumahuwa dan Sandy Winarta.

Dari acara jam session yang rutin digelar setiap jumat malan itu,selalu hadir nama nama jazzer muda seperti Nikita Dompas,Sandy Winarta,Indra Dauna,Indra Aziz,Barry Likumahuwa,Donny Sunjoyo,Irsa Destiwi dan masih sedetet panjang lainnya.

“Disaat yang bersamaan,saya punya rencana untuk menghidupkan kembali kelompok Reborn,sebuah konsep jazz yang selalu updating dengan gaya musik terbaru  yang pernah saya bikin pada awal tahun 2000an dulu.Di tengah jalan,rencana membangun Reborn kembali saya alihkan menjadi trio LLW ini.Saya memilih Barry Likumahuwa dan Sandy Winarta karena mlihat kemampuan mereka bermain yang sangat intens.Barry misalnya,karakter funknya itu kuat tapi dia juga bisa main standart dengan bagus.Demikian juga Sandy yang all round” imbuh Indra lagi.

Selain tampil di ajang Java Jazz International Festival di Jakarta  5 Maret2011 ,trio LLW ini pun tampil bersama Scott Henderson Trio di acara “Jazz Up ,Re-Load” pada 19 Maret 2011 di Singapore.

Sebetulnya pada saat tampil di kedua event jazz itu,LLW telah merencanakan akan merilis debut album mereka bertajuk “Love Life Wisdom”.”Rilis album tertunda karena menjelang acara Java Jazz saya masuk rumah sakit karena terkena demam berdarah” tutur Indra Lesmana.

Untuk album yang dirilis secara fisik akan berisikan sebanyak 9 lagu yaitu “Love Life Wisdom”,”Strecht N Pause”,”Friday Call”,”Back Into Sumthin”,”Morning Spirit”,”Smooth Over The Rough” dan versi panjang dari “Love Life Wisdom”  serta “Blue In Green “ sebuah ballad dari album Miles Davis “Kind Of Blue” (1959) dan “Giant Steps” karya fenomenal John Coltrane dari album “Giant Steps” (1960).”Kedua lagu ini memang berasal dari dua album fenomenal jazz milik Miles Davis dan John Coltrane” papar Indra Lesmana.

“Sayangnya Blue In Green dan Giant Steps tidak bisa kami masukkan dalam iTunes karena tidak mendapat izin dari publishing musicnya.Tapi untuk versi album fisik,kedua lagu itu akan kami ikutkan” tambah Indra lagi.

Saat menyimak album Love Life Wisdom ini,saya merasakan sebuah gagasan untuk menggabungkan jazz dengan aura musik sekarang.Sebuah hibrida musik yang sesungguhnya pernah digagas Indra pada album Reborn di tahun 2000 yang membaurkan jazz dengan,funk hingga hiphop.Sekedar mengingatkan bahwa di tahun 1983 pianis jazz Herbie Hancock pernah berkolaborasi dengan seorang discjockey bernama D.S.T menghasilkan lagu “Rock It”.Bahkan maestro Miles Davis sebelum meninggal pada tahun 1991,sempat merekam album bernuansa hip hop bertajuk “Doo Bop” bersama produser Easy Mo Bee dan dirilis pada tahun 1992.

Album hibrida jazz semacam ini kemudian kian berkembang dengan munculnya trio seperti Medeski,Martin and Wood  yang menyusupkan serta membaurkan begitu banyak kecenderungan  musik seperti jazz funk,post bop ,hingga jambands dalam nampan yang bernama jazz.

Pada lagu “Strecth N Pause”,Indra memempelaikan piano jazz dengan aura hiphop yang menyegarkan dengan hadirnya DJ Cream lewat imbuhan scratch vinyl-nya,rapper Kyriz Boogiemen dan Indra Aziz  menghadirkan efek beatbox yang perkusif.

“Saya tertarik mengajak DJ Cream dan Kuriz Boogiemen saat tampil bersama dalam acara Urban Jazz Crossover.Saya melihat antusias penonton yang menyaksikan acara Urban Jazz Crossover.Inilah yang menggelitik saya untuk menulis lagu Strecht N Pause” ungkap Indra Lesmana.

Bahkan dalam tuturan rap yang dilakukan Kyriz Boogiemen isinya mengenai sejarah jazz di Indonesia.”Saya bilang ke Kyriz bahwa saya ingin mengangkat tema tentang sejarah jazz Indonesia.Lalu saya ceritakan semuanya,dan Kyriz kemudian menulis rappingnya dengan bagus” tukas Indra Lesmana.Ini sebagian celoteh Kyriz dalam lagu “Strecht N Pause” :

I stretch n pause….
To guide the lost….
This time, it’s LLW
Still wit Kyriz up in here to entertain you

Yes, brothas n sistas
Here they are, Indonesia’s finest..Starting with Didi Patirani,Jack Lesmana and the Indonesian All-Stars wit Bubi Chen, Yopi Chen, Maryono, Benny Mustafa,Nick Mamahit.Bill Saragih,Mus Mualim,Edi Karamoy And the Jazz Riders: Didi Tjia, Patisellano Brothers, Trisno,Benny Likumahuwa,Embong Rahardjo,Abdullah Suweileh,And to many other souls
Who has contributed their life, to Indonesia’s Jazz…..

Salah satu best cut album ini sudah pasti adalah “Love Life Wisdom” yang dibawakan dengan paripurna oleh vokalis Dira J Sugandi dengan interpretasi aura soul R&B yang mumpuni.

Barry  Likumahuwa mengimbuhkan pola bass yang cenderung lebih funk,sedang Indra Lesmana menghasilkan bunyi-bunyian kosmik lewat miniMoog yang dikendalikan oleh suara Indra melalui perangkat talkbox yang unik berdampingan dengan sound vintage piano elektrik Fender Rhodes Stage 73 yang legendaris itu.

Dalam waktu dekat.menurut Indra Lesmana,album debut LLW “Love Life Wisdom” ini akan segera dirilis dalam bentuk cd dan vinyl.”Saya memang menginginkan album ini juga hadir dalam bentuk vinyl.Apalagi belakangan ini bersamaan dengan derasnya kecenderungan orang mendownload lagu secara digital, kegilaan terhadap vinyl pun mulai terlihat.Saya mulai melihat anak muda yang mulai beli vinyl.dan beberapa toka musik mulai terlihat menjual vinyl juga “ imbuh Indra Lesmana lagi.

Denny Sakrie

Blog EntryJan 9, '11 10:51 PM
for everyone

Kumeniti Pelangi
Dan kuarungi misteri
Tanggalkan mimpi
Ku ingin mencari
Kedamaian yang abadi di hati ini

(“Meniti Pelangi” Elfa Secioria dan Wieke Gur)

Tiba tiba lirik lagu “Meniti Pelangi”yang dinyanyikan Harvey Malaiholo karya Elfa Secioria dan Wieke Gur terngiang-ngiang dikupingsaya saat tadi sore menerima kabar duka berpulangnya sahabat saya Elfa Secioria.

Hmm bang Eel telah meninggalkan dunia fana ini.Dia telah meniti pelangi menghadap sang Khalik.

Sudah cukuplama saya tak bersua Bang Eel,demikian panggilan akrabnya.Dia sempat kirim SMS beberapa waktu lalu,mengundang saya untuk menghadiri inaugrasi murid-murid musiknya yang tergabung dalam EMS.Tapi sayang saya tidak bisa datang,karena ada kesibukan sebagai juri.

Pertemuan terakhir saya dengan Bang Eel seingat saya sekitar tahun 2009.Saat itu saya dan bang Eel jadi narasumber di acara talk show “Impact” di QTV yang terletak di Gedung Citra Graha gatot Subroto Jakarta.Sebelumnya saya sempat menuliskan liner notes untuk album ke 7 Elfa’s Singers bertajuk “30 Tahun Elfa’s Singers” yang dirilis Target Pop awal 2009.

Sekitar jam 17.26 saya mendapat kabar bahwa pemusik berbakat Elfa Secioria telah meninggal dunia.Elfa menghembuskan nafas terkahir pada jam 17.00 WIB sabtu 8 Januari 2011 di RSP Pertamina Jakarta Selatan.Dia dirawat karena mengidap penyakit komplikasi yang telah kronis.Bahaln sejak beberapa waktu lalu tangan Elfa pun telah mengalami pembengkakan yang akut.

Elfa Secioria dilahirkan  di Garut, Jawa Barat, pada  20 Februari 1959. Dia berasal dari keluarga yang mencintai dunia musik. Ayahnya, Hasbullah Ridwan seorang polisi militer yang aktif dalam bermain musik mampu bermain bass dan saxophone serta juga dikenal  sebagai konduktor dan pemain jazz.  Elfa yang tergila-gila dengan Cal Tjader meenempuh pendidikan mulai SD sampai SMA di Bandung. Kemudian, melanjutkan ke Akademi Teknologi Nasional di Bandung  hingga tingkat II ditahun 1980.Tampaknya Elfa lebih menekuni musikpada akhirnya.

Elfa kecil mulai bermain piano ketika berusia 5 tahun. Ketika berusia delapan tahun , ia pemain piano  dan vibraphone dalam Trio Jazz  IVADE. Kemudian Elfa Secioria mengikuti Piano Privat 1 dan 2 di Bandung (1970-1974), mempelajari musik Simfoni di Bandung (1971-1978) dan belajar Aransemen Orkestra di Bandung (1974-1978).

Di tahun 1975 harryRoesli mengajak Elfa bergabungdalam Gang of Harry Roesli yang memainkan musik rock .jazz berpadu dengan etnik Jawa Barat.Elfa sempat mendukung album “Titik Api” di tahun 1976 yang diproduksi majalah Aktuil Bandung.

Di era yang sama Elfa Secioria bergabungdalam kelompok jazz Bandung “Sonata ’47″ pimpinan Adang Bendo bersama gitaris jazz EddyKaramoy dan ayahnya sendiri Hasbullah Ridwan.Sonata 47 merilis album bertajuk “Hampa”

Untuk musik Elfa memperoleh bimbingan mengenai teori dan sejarah musik, komposisi, dan karakter instrument dari  F.A. Warsono, pimpinan Orkes Simfoni Angkatan Darat Bandung. Elfa pernah manggung dengan mata tertutup saat berusia 11 tahun dan membentuk kelompok vokal pada saat berusia 19 tahun.

Pada ASEAN Song Festival di Bangkok tahun 1982 , Elfa  memboyong penghargaan  sebagai Pengaransir Terbaik. Di tahun 1984, pada acara yang sama di Manila Philipina , Elfa  kembali meraih penghargaan untuk The Best Arranger dan the Best Song.

Kumeniti Pelangi
Dan kuarungi misteri
Tanggalkan mimpi
Ku ingin mencari
Kedamaian yang abadi di hati ini

(“Meniti Pelangi” Elfa Secioria dan Wieke Gur)

Tiba tiba lirik lagu “Meniti Pelangi”yang dinyanyikan Harvey Malaiholo karya Elfa Secioria dan Wieke Gur terngiang-ngiang dikupingsaya saat tadi sore menerima kabar duka berpulangnya sahabat saya Elfa Secioria.

Hmm bang Eel telah meninggalkan dunia fana ini.Dia telah meniti pelangi menghadap sang Khalik.

Sudah cukuplama saya tak bersua Bang Eel,demikian panggilan akrabnya.Dia sempat kirim SMS beberapa waktu lalu,mengundang saya untuk menghadiri inaugrasi murid-murid musiknya yang tergabung dalam EMS.Tapi sayang saya tidak bisa datang,karena ada kesibukan sebagai juri.

Pertemuan terakhir saya dengan Bang Eel seingat saya sekitar tahun 2009.Saat itu saya dan bang Eel jadi narasumber di acara talk show “Impact” di QTV yang terletak di Gedung Citra Graha gatot Subroto Jakarta.Sebelumnya saya sempat menuliskan liner notes untuk album ke 7 Elfa’s Singers bertajuk “30 Tahun Elfa’s Singers” yang dirilis Target Pop awal 2009.

Sekitar jam 17.26 saya mendapat kabar bahwa pemusik berbakat Elfa Secioria telah meninggal dunia.Elfa menghembuskan nafas terkahir pada jam 17.00 WIB sabtu 8 Januari 2011 di RSP Pertamina Jakarta Selatan.Dia dirawat karena mengidap penyakit komplikasi yang telah kronis.Bahaln sejak beberapa waktu lalu tangan Elfa pun telah mengalami pembengkakan yang akut.

Elfa Secioria dilahirkan  di Garut, Jawa Barat, pada  20 Februari 1959. Dia berasal dari keluarga yang mencintai dunia musik. Ayahnya, Hasbullah Ridwan seorang polisi militer yang aktif dalam bermain musik mampu bermain bass dan saxophone serta juga dikenal  sebagai konduktor dan pemain jazz.  Elfa yang tergila-gila dengan Cal Tjader meenempuh pendidikan mulai SD sampai SMA di Bandung. Kemudian, melanjutkan ke Akademi Teknologi Nasional di Bandung  hingga tingkat II ditahun 1980.Tampaknya Elfa lebih menekuni musikpada akhirnya.

Elfa kecil mulai bermain piano ketika berusia 5 tahun. Ketika berusia delapan tahun , ia pemain piano  dan vibraphone dalam Trio Jazz  IVADE. Kemudian Elfa Secioria mengikuti Piano Privat 1 dan 2 di Bandung (1970-1974), mempelajari musik Simfoni di Bandung (1971-1978) dan belajar Aransemen Orkestra di Bandung (1974-1978).

Di tahun 1975 harryRoesli mengajak Elfa bergabungdalam Gang of Harry Roesli yang memainkan musik rock .jazz berpadu dengan etnik Jawa Barat.Elfa sempat mendukung album “Titik Api” di tahun 1976 yang diproduksi majalah Aktuil Bandung.

Di era yang sama Elfa Secioria bergabungdalam kelompok jazz Bandung “Sonata ’47″ pimpinan Adang Bendo bersama gitaris jazz EddyKaramoy dan ayahnya sendiri Hasbullah Ridwan.Sonata 47 merilis album bertajuk “Hampa”

Untuk musik Elfa memperoleh bimbingan mengenai teori dan sejarah musik, komposisi, dan karakter instrument dari  F.A. Warsono, pimpinan Orkes Simfoni Angkatan Darat Bandung. Elfa pernah manggung dengan mata tertutup saat berusia 11 tahun dan membentuk kelompok vokal pada saat berusia 19 tahun.

Pada ASEAN Song Festival di Bangkok tahun 1982 , Elfa  memboyong penghargaan  sebagai Pengaransir Terbaik. Di tahun 1984, pada acara yang sama di Manila Philipina , Elfa  kembali meraih penghargaan untuk The Best Arranger dan the Best Song.

Pada Golden Kite Festival di Malaysia, 1984, mendapat penghargaan sebagai The Best Performer dengan lagu Kugapai Hari Esok, yang dinyanyikan oleh Harvey Malaiholo. Selama kariernya, Elfa sudah 14 kali menjadi pengaransir orkes Telerama pimpinan Isbandi dan untuk Chandra Kirana  pimpinan Diah Iskandar di TVRI.

Pengalaman berkesan buat Elfa, yakni ketika ia menjadi konduktor pada orkes simfoni Yamaha di Budokan Hall, Tokyo saat berlangsung acara World Popular Song Festival pada tahun 1982.. Pengalaman lain yang tak bias dilupakan Elfa adalah sewaktu ia harus menyelesaikan 17 aransemen musik selama tujuh jam di dalam pesawat pada tahun 1983.

Pengalaman yang sangat  berkesan bagi Elfa,  ketika ia menjadi konduktor pada orkes simfoni Yamaha di Budokan Hall, Tokyo saat berlangsung acara World Popular Song Festival pada tahun 1982. Termasuk juga pengalaman  sewaktu ia harus menyelesaikan 17 aransemen musik selama tujuh jam di dalam pesawat pada tahun 1983.

Elfa Secioria dengan Elfa’s Choir-nya  juga termasuk pelanggan juara Olimpiade  paduan suara sedunia.

Elfa Secioria juga di kenal sebagai pendiri grup musik Elfa’s Singer, yang ini telah merilis tujuh album. Album yang ke tujuh yang bertajuk Elfa’s Singers dibuat dalam rangka 30 tahun eksistensi mereka di musik Indonesia pada tahun 2008.

Masih banyak prestasi Elfa Secioria yang belum terpaparkan disini.Sepatutnya kita merasa kehilangan seorang pemusik terbaik Indonesia yang memiliki banyak prestasi.Selamat jalan bang Eel !.Karyamu tetap kami kenang.

(Denny Sakrie)



Blog EntryDec 6, '10 7:08 AM
for everyone

Lagi,pemusik terbaik Indonesia berpulang kerahmatullah Kuntet Mangkulangit,seorang pencipta lagu yang cukup produktif dalam musik dangdut.

Kuntet Mangkulangit meniti karir sebagai seniman jalanan di kawasan Blok M Jakarta.Kuntet pernah membentuk kelompok Laskar Bingung bersama Anto Baret.Di awal 80-an Kasino Warkop menemukan bakat-bakat musik dari beberepa pemusik yang membentuk Orkes Moral Pengantar Minum Racun (PMR).Kelompok ini sering diajak manggung bersama Warkop Prambors.

Kuntet Mangkulangit lalu menulis lagu yang cukup fenomenal yaitu "Judul Judulan" yang dinyanyikan Johnny Iskandar bersa OM PMR

Kuntet Mangkulangit juga adalah orang yang menemukan bakat almarhum Mbah Surip yang saat itu lontang lantung dikawasn Bulungan Blok M Jakarta

Selamat jalan Kuntet Magkulangit  


Blog EntryDec 5, '10 9:28 AM
for everyone
Jacob Kembar yang bernma asliJacob Matius Israel Korengkeng (54)  salah satu personel Kembar Group, band pop Indonesia yang terkenal pada 1970-an hingga 80-an, kini telah berpulang. Jacob meningggal dunia  di Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Sabtu pagi 4 Desember 2010

Jacob  lahir pada 28 Juli 1956 sebagai anak ketujuh dari sembilan putra-putri  pasangan JCA Korengkeng dan Siti Aisah.Nomo Koeswoyo yang menemukan bakat mereka di paruh era 70-an dan memberi nama Kembar Group.Grup ini melejit membayangi Koes Plus.Duet antara Alex dan Jacob memang sangat dekat dengan gaya Yon dan Yok dari Koes Plus.
Hits terbesar Kembar Group adalah "Frustrasi" di tahun 1981.
Jacob sejak dua tahun terakhir bermukim di Balik Papan.Dia menjalani hidup sebagai seorang pendeta.
Di awal 90-an Jacob pernah berduet dengan Fariz RM lewat album "Gala Premiere".
Selamat Jalan Jacob........
 





 
T

35 Tahun Erros Djarot Berkarya :

                                  KARYA BERBALUR NASIONALISME

                                              Oleh  Denny Sakrie

 

"Saya bukan penyanyi......" itu kalimat sakti Erros Djarot yang kerap keluar dari mulutnya,setidaknya  saat lelaki berkumis tebal  yang bernama asli Soegeng Djarot ini tampil di depan publik bersama Barong's Band,band anak Indonesia yang terbentuk di Koeln Jerman Barat pada awal era 70-an..Tepatnya 35 tahun silam pada tanggal 14 dan 15 Mei 1976 di Teater Terbuka Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta
Dan kalimat sakti itu justeru keluar lagi dari mulut Erros Djarot dihadapan banyak tamu yang menghadiri acara terbatas "35 Tahun Erros Djarot Berkarya" di Lunar Lounge Pondok Pinang Jakarta Selatan 23 Juli 2010.
Setidaknya lagi kalimat sakti itu bisa menjadi jembatan permakluman  apabila ternyata  Erros yang malam itu merayakan ulang tahunnya yang ke 60 bernyanyi tak merdu,tidak pitch dan lain sebagainya.
Dalam perhelatan yang banyak dihadiri kerabat Erros dari kalangan  pemusik,seniman,budayawan, politikus,wartawan dan entah apa lagi,itu pada umumnya penasaran ingin mendengar suara Erros Djarot sesungguhnya seperti apa .Karena saya yakin tak semua orang pernah menyimak album Barong's Band yang menampilkan suara Erros Djarot.Barong’s Band sendiri tercatat hanya sekali tampil di TVRI yaitu pada tanggal 5 Mei 1976 dan hanya sempat sekali menggelar konser di TIM Jakarta pada pertengahan Mei 1976.
Selama ini kha layak hanya mengetahui bahwa Erros Djarot yang kini menambah satu huruf r pada nama depannya adalah kreator utama dari album soundtrack film "Badai Pasti Berlalu" (1977) yang melejitkan pula sosok Chrisye maupun Berlian Hutauruk hingga Yockie Suryopryago dan Fariz RM.
Walaupun sejak awal 70-an pernah ngeband dgn berbagai band mulai dari Chekink II,The GIBS  hingga berlanjut ke band yang terbentuk di Jerman seperti Kopjaeger dan Barong's Band,Erros tetap merasa dirinya bukan pemusiki yang sesungguhnya."Saya ini  seorang pemimpi " itu kalimat yang kerap pula muncul dari mulutnya manakala ada yang menanyakan ikhawal musikalitas Erros Djarot.
Malam  itu Erros memang seperti ingin melakukan napak tilas terhadap karirnya di zona musik”Beberapa sahabat awalnya berniat merayakan hari ulang tahun saya pada  22 Juli 2010 .Ide yang kurang kreatif ini saya respon dengan penolakan. Ketika mereka menyodorkan alternative tema “35 Tahun  perjalanan Erros Djarot Berkarya” , usulan ini langsung saya setujui.Langsung pula saya kontak temen temen lama ,Debby Nasution,Yockie,Keenan Nasution untuk memberitahu adanya ide dadakan  ini. Akhirnya kita sepakat dan saling heran .seakan tak percaya….Waw ! Setelah puluhan tahun absen akhirnya kita bersama manggung lagi.Melepas kerinduan terhadap pencinta musik kami” ungkap Erros Djarot panjang lebar.

Meskipun  sempat diguyur hujan, tapi para tetamu malah tak beringsut sedikitpun  dari Lunar Lounge yang menggelar semacam garden party.Terlihat beberapa pemusik kerabat Erros di era 70-an seperti Keenan Nasution,Gauri Nasution,Oding Nasution,Debby Nasution ,Harry Sabar,Harry Minggoes,Doddy Soekasah termasuk  Titik Puspa,Setiawan Djody,Franki Raden hingga Iwan Fals.Wajah wajah dari ranah politik pun terlihat seperti Hayono Isman,Soetiyoso,Roy BB Janis,Zulkifly Hasan serta dari kalangan media  mulai dari Bambang Harymurti hingga Ishadi SK
Pada saat perjamuan makan malam di kotak speaker terdengar lagu protes Erros Djarot yang dirilis sesudah lengsernya Soeharto pada Mei 1998 silam,lagu itu bertajuk "Janganlah Menangis Indonesia".Lagu itu dinyanyikan oleh wartawan Detik,tempat Erros memimpin sebuah media cetak.Tapi lagu itu memang banyak yang tak mengenal.Suasana kian riuh dengan aroma nostlagia sambil mencicipi makanan yang tersedia melimpah.
Lalu putera Erros Banyu Biru tampil ke panggung memperkenalkan sosok ayahnya yang malam itu genap berusia 60 tahun.Kakak kandung Erros,Slamet Rahardjo pun naik ke pentas bertutur tentang adiknya itu.
Berlanjut dengan sajian musik dari para penyanyi masa kini seperti Farman,Anissa dan Lea Simanjuntak yang membawakan lagu lagu karya Erros dari album "Tribute to Erros Djarot" (2009). Slamet Rahardjo kemudian tampil membawkan lagu dengan nuansa laid-back jazz "Sendiri Menembus Malam".Konon lagu ini khusus ditulis Erros untuk dinyanyikan abang kandungnya itu.
Erros  Djarot lalu mengambil alih posisi sebagai penyanyi.Dengan sumringah Erros membawakan  sekitar 6 lagu  dengan dukungan Gauri Nasution (gitar|),Debby Nasution (keyboard) dan Harry Minggoes (bass).Sepintas formasi ini mengingatkn kita pada formasi Barong's Band yang tampil di TIM pada tanggal 14 Mei 1976 silam.
Dibuka dengan lagu "Pelangi" dari album Badai.Debby memetik gitar akustik.Erros pun menyanyi.Beberapa penonton malah ikut bernyanyi .Disela-sela penampilannya Erros bertutur tentang lagu-lagu yang dinyanyikannya seperti "Angin Malam","Khayalku","Semusim".Lalu berlanjut ke lagu yang bernuansa geram "Negeriku Cintaku".Lagu yang dipopulerkan Keenan Nasution ini ditulis oleh Debby Nasution dan Erros Djarot pada tahun 1976.Liriknya pun provoke :

Hei kaum muda masa kini
Kita berantaslah korupsi
Jangan kau biarkan mereka
Menganiayai hati kita

Keenan Nasution hanya tersenyum melihat Erros menyanyikan lagu itu dengan penuh semangat di panggung.Aroma prog-rock menyeruak dari permainan keyboard Debby Nasution yang banyak terpengaruh gaya Rick Van Der Linen,pemain keyboards grup prog-rock Belanda Ekseption.
Erros masih melanjutkan lagi penampilannya dengan lagu "Tuhan" yang diambil dari album Barong's Band di tahun 1976.
Acara yang berlangsung meriah itu berakhir dipertengahan malam.Iwan Fals didaulat untuk tampil .Lagu bermuatan gugat tentang republik ini berkumandang dari tenggorokan Iwan Fals.

Dalam perayaan “35 Tahun Erros Djarot Berkarya” mengemuka kredo bermusik Erros yang tampak nyata selama ini yaitu berada dalam kitaran karya romansa dan kritik sosial.Tampaknya Erros memang berada di dua kutub yang saling berbeda perangai itu.Disatu sisi Erros mengemuka dengan romantisme yang meluap dan kepayang, tapi disi lain Erros pun mengerang dengan pelbagai kritik yang tajam.

Di paruh era 60-an,Erros mulai kesengsem dengan musik.Berbekal kemampuan memetik gitar ala kadarnya Erros memang seperti mendambakan sesuatu yang hakiki dalam dunia musik.Saat itu The Beatles tengah melanda dunia.Erros pun menggemari The Beatles.John Lennon yang kuat dalam pengejawantahan visi adalah tokoh yang dikagumi Erros Djarot.Semasa duduk dibangku SMA 1 Budi Utomo Jakarta pada tahun 1967-1968 ,Erros mulai terlibat kegiatan ngeband,diantaranya menjadi gitaris Budut Band dan Chekink II. Erros yang ekstrovert memang memiliki pergaulan yang luas.Temannya ada dimana-mana.Termasuk  diantaranya Bambang Trihatmojo putera presiden Soeharto yang menyediakan salah satu bagian dari kediamannya di Jalan Cendana untuk latihan band.Saat itu,tahun  1970,Erros bersama Indra dan Tri Anggono Sudewo tergabung dalam band The GIBS.Bambang Tri sendiri membentuk band The Crabs. “Seingat saya The GIBS pernah tampil di TVRI mengiringi penyanyi Henny Poerwonegoro.Saya bermain gitar he he “ ujar Erros mengenang.

Tak lama kemudian Erros memutuskan melanjutkan pendidikan ke Jerman Barat.”Erros itu cerdas.dari kecil dia telah memperlihatkan intelegensia yang tinggi.Angka yang diperolehnya dalam pelajaran di sekolah itu selalu berkisar pada nilai 9.Ayah saya memang menaruh harapan tinggi pada Erros.Apalagi saat itu saya yang tertua malah lebih memilih dunia teater.Jadi tak heran jika Erros menjadi harapan ayah” ujar Slamet Rahardjo di Sanggar Teater Populer Jalan Kebon Pala Jakarta.

Di Jerman Erros bermukim di Koeln dengan mengambil pilihan Teknik Kimia.Kegandrungannya dalam bermusik mulai mencuat lagi di Jerman,apalagi sahabat ngebandnya dulu di Jakarta  seperti Tri,Darmadi dan Epot juga menetap di Jerman.Akhirnya Erros pun tergabung dalam band bernama Kopjjaeger yang dalam bahasa Jerman artinya pemburu kepala.Band ini dibentuk pada Maret 1968 oleh Utomo Umarjadi (bass) dan Harry Suharjanto (keyboards).Saat Erros bergabung,formasi Kopfjaeger terdiri atas Tri Anggono Sudewo (drums),Harry Suharjanto (keyboards),Utomo Umarjadi (bass),Darmadi (gitar) dan Erros Djarot (gitar).Kopfjaeger bermain rutin dua kali seminggu di Tannenhof Restaurant di sebuah kota kecil bernama Bad Muenstereifel, sekitar 30 km dari kota Bonn.Uniknya saat Kopfjaeger diminta bermain untuk acara di Kedutaan RI,mereka lalu mengganti namanya menjadi Indonesische Band.”Kami membawakan lagu lagu top 40” jelas Erros Djarot.

Namun Erros justeru merasa kian gelisah saat bergabung dengan Kopfjaeger yang kerap hanya tampil sebagai band pembawa lagu-lagu orang saja.Diam diam Erros menyimpan obsesi besar yaitu membuat band yang bernuansa Indonesia.

.”Ketika bermukim di Jerman saya gelisah.Nasionalisme saya seolah tertantang untuk diwujudkan.Perasaan cinta bangsa rasanya memang baru terasa berkobar-kobar jika kita tengah merantau di negeri orang.Saat di Jerman saya selalu merasa diperlakukan sebagai warga kelas dua.Sehebat apa pun anda,secerdas apa pun atau sejenius apapun.Anda tetap dianggap sebagai warga kelas dua.Ini tentu menyakitkan.Saat itu nurani saya berontak.Saya bersama anak-anak Indonesia yang kebetulan sedang bersekolah di Jerman berinisiatif membentuk band yang namakan Barong’s Band” demikian cerita Eros Djarot panjang lebar .

Dari sinilah kemudian muncul gagasan membentuk Barong’s Band di tahun 1974.Akhirnya terbentuklah Barong’s Band dengan formasi Erros Djarot (gitar),Tri Anggono Sudewo (drums),Choqy Hutagalung (keyboards),Epot (bass) dan Darmadi (gitar).Mereka pun mulai giat membuat lagu-lagu karya sendiri dalam bahasa Indonesia.Sesuatu yang teramat musykil mengingat mereka justeru bermukim di negeri orang.”Tapi kami tetap bertekad ingin ngeband dengan semangat Indonesia.Kita kan orang Indonesia” ucap Erros Djarot tersenyum.

 

     Singkat cerita,Erros Djarot yang telah memendam segunung gagasan saat berkelana di Jerman berkeinginan untuk menumpahkannya di Tanah Air.Saat itu gagasan yang telah lama terbersit dalam pikirannya adalah ingin mewujudkan penulisan lagu dalam bahasa Indonesia.

Erros Djarot dan Barong’s Band pada tahun 1975 menjejakkan kaki kembali ke Tanah Air tercinta.Erros lalu mampir ke rumah Keenan Nasution di Jalan Pegangsaan Barat 12 Menteng Jakarta Pusat yang juga menjadi markas band Gipsy dan Young Gipsy.Di rumah milik bapak Saidi Hasjim Nasution itu memang seolah menjadi rumah singgah anak band Jakarta.Kelima putera pak Nasution  seperti Zulham Nasution,Gauri Nasution,Keenan Nasution,Oding Nasution  dan Debby Nasution masing masing memiliki band sendiri seperti Gipsy,Young Gipsy,Clique Fantastique hingga God Bless.

 Kunjungan Eros Djarot ke Jalan Pegangsaan Barat  12  rasanya merupakan sasaran yang tepat.Karena disinilah sebetulnya Eros Djarot bisa menyatukan gagasan dan mensenyawakan elemen musik yang dimilikinya,bertaut dengan gagasan gagasan cemerlang  yang sekian lama juga mengendap di Jalan  Pegangsaan.

Eros Djarot bersama sahabat-sahabat bermusiknya di Jerman seperti almarhum Epot (bas),Tri (drum) dan Ady (gitar) lalu bertandang ke Pegangsaan,Diskusi musik pun tak terhindarkan lagi.Gagasan bermusik berkonsep Indonesiana pun termuntahkan.Eros saat itu berdecak kagum menyaksikan musikalitas Debbie Nasution,putera bungsu Saidi Hasjim.

”Debbie itu jenius.Dia bisa memainkan musik klasik padahal dia hanya belajar secara otodidak.Debbie hanya memanfaatkan kupingnya dengan menyimak karya karya klasik melalui piringan hitam ayahnya.Ini luar biasa” puji Eros Djarot.

Di Pegangsaan,Eros pun kerap berbincang-bincang dengan pak Saidi Hasjim.”Kami banyak berbincang soal musik opera kegemaran Oom Saidi.Selain musik klasik oom Saidi juga menggemari karya lukisan” tukas Eros Djarot.Dalam diskusi seni antara Eros dengan Saidi Hasjim dan juga Debbie,mereka sering membahas karya karya lukisan bernilai seni yang tinggi seperti lukisan karya van Gogh,Rembrandt hingga Picasso.

“Momen ini tak pernah hilang dalam ingatan saya” imbuh Eros Djarot lagi.

     Di lain hari,Eros dan Debbie mulai terlihat berjam jam di sekitar piano.Eros bersenandung,Debbie mereka reka akord.Terkadang Debbie pun mengimbuh beberapa senandung melodi.Keduanya hanyut dalam proses penciptaan lagu.

Di depan piano yang berada di kamar Debbie itulah cikal bakal lahirnya lagu “Angin Malam”,”Khayalku” dan “Cintaku” yang kelak menjadi bagian dari album fenomenal sepanjang masa “Badai Pasti Berlalu”.Bahkan dari kolaborasi antara Debbie Nasution dan Eros Djarot itu pun menghasilkan sebuah lagu bertajuk “Negeriku Cintaku” yang direncanakan akan menjadi bagian dari album perdana Barong’s Band.

Namun akhirnya lagu ini ternyata menarik perhatian Keenan Nasution yang tengah mengumpulkan materi lagu untuk album perdananya “Di Batas Angan Angan” yang dirilis pada tahun 1978.

Lirik lagu “Negeriku Cintaku” memang terasa tajam dan pedas.Mungkin ini yang disebut sebagai protest song  atau oleh wartawan musik acapkali dikategorikan sebagai lagu kritik sosial.

Eros Djarot memang selalu meletup-letup disatu sisi,akan tetapi di sisi lain Eros bisa terkesan luar biasa romantis.Eros memang mengakui hal itu.”Jika saya tergerak secara intelektual maka akan berhamburan lah lirik bertema kritik sosial.Tapi jika impuls emosional saya bekerja maka tertuanglah lagu-lagu yang romantik seperti isi sebagian besar album Badai Pasti Berlalu” jelas Eros Djarot.

Akhirnya Gauri Nasution dan Debby Nasution pun ikut bergabung dalam formasi Barong’s Band.”Saya mengagumi bakat Gauri memetik gitar atau Debby yang perfek bermain piano” puji Erros Djarot.

Bersamaan dengan bergabungnya Gauri Nasution dan Debbie Nasution dalam formasi Barong’s Band,Eros Djarot pun mulai disibukkan sebagai peñata musik beberapa film garapan sutradara almarhum Teguh Karya seperti “Perkawinan Dalam Semusim” dan “Kawin Lari”.

Keterlibatan Erros dalam illustrasi musik film justeru berawal dari kemarahan sutradara Teguh Karya.Erros yang dijuluki big mouth oleh sohib terdekatnya memang selalu melontarkan kritik yang tajam dan pedas.Entah untuk musik hingga film.Suatu hari Teguh Karya yang selalu menjadi sasaran kritik Erros malah menyergah Erros :”Kalau lu ngerti,coba deh lu aja yang bikin illustrasi musik film gua nanti.Gua pengen tau tuh hasilnya kayak apa”.

Erros yang merasa tertantang,langsung menerima tawaran penggarapan illustrasi musik film “Kawin Lari” (1975) yang dibesut Teguh Karya.Diluar dugaan garapan music Erros malah berbuah prestasi.Dalam Festival Film Indonesia 1976 Erros Djarot meraih Piala Citra sebagai Penata Musik Terbaik.

“Erros memang big mouth.Mirip petinju Muhammad Ali yang kerap berkoar koar.Tapi ternyata apa yang diucapkannya bisa terbukti” ujar Slamet Rahardjo.

Ketika menggarap musik untuk film “Kawin Lari” yang dibintangi Slamet Rahardjo dan Christine Hakim,Eros Djarot pun melibatkan Barong’s Band.”Obsesi saya untuk membuat album dengan lagu-lagu berbahasa Indonesia terwujud di album Kawin Lari” ujar Eros Djarot.

 Sebelum proses penggarapan album Kawin Lari,Eros sengaja memborong sejumlah kaset-kaset pop Indonesia yang tengah ngetop saat itu,mulai dari Koes Plus,D’Lloyd,Panbers,Arie Koesmiran,Ade Manuhutu dan banyak lagi.”Kaset-kaset itu kami dengarkan dan pelajari.Kami telaah melodinya dan menyimak tema tema syairnya.Ini merupakan referensi sebelum kami melangkah lebih jauh lagi bersama Barong’s band” cerita Eros Djarot.

 Sampai akhirnya,Eros Djarot dan kawan kawan berkesimpulan bahwa pemusik pemusik Indonesia banyak yang terjebak dalam komersialisasi belaka.Kreativitas bermusik terkuras dengan begitu banyaknya karya-karya pesanan yang seringkali mengatasnamakan selera pasar atau selera masyarakat.”Ini menyedihkan,karena pada akhirnya terjadilah yang namanya pendangkalan.Dan ini pun mulai terlihat lagi di zaman sekarang ini” ucap Eros Djarot.

 Di saat proses penggarapan album Barong’s Band,Eros bahkan berbuat sesuatu yang agak ekstrem.”Setiap anggota Barong’s tidak boleh mendengarkan rekaman pemusik Barat.Agar musikalitas mereka tak terganggu.Jadi saya memang menginginkan karya-karya kami lebih orisinal” cerita Eros Djarot.

 Pada tahun 1976 beredarlah album Barong’s Band bertajuk “Kawin Lari” menampilkan sebagian besar karya Eros Djarot seperti “PelukMu”,”Oh Wanita” ,”Bisikku”hingga “Jakarta”.Menariknya,di album ini Eros pun menampilkan dua buah lagu bergaya keroncong yang dinyanyikan secara duet  oleh Titi Qadarsih dan Slamet Rahardjo,kakak Eros.Lirik lagu keroncong  bertajuk “Stambul Jakarta” ditulis oleh Teguh Karya.”Saya memang mencoba mengangkat nuansa Indonesia di album ini” jelas Eros.

Hampir bersamaan dengan album “Kawin Lari”,Barong’s Band juga merilis album “Barong’s Band” dengan atmosfer rock progressive yang kuat mencengkeram.Debbie sendiri banyak mengadopsi karya klasik Johann Sebastian Bach.Seluruh lagu ditulis oleh Eros Djarot,terkecuali”Negara Kita” yang ditulis oleh Debbie Nasution.Lagu lagu yang dikemas di album ini cenderung bernuansa kontemplatif,permenungan hingga kritik sosial.Lihatlah sampul albumnya yang bertuliskan kalimat : “Beri kami sinarMu dikegelapan agar mereka yang buta menjadi terang”.

 

Barong’s Band memang mendapat perhatian tersendiri dalam gugus musik Indonesia.Permainan gitar Gauri Nasution dan keyboard Debbie Nasution menuai pujian dari para pengamat musik.

 Sayangnya Barong’s Band hanya sempat merilis 2 album saja.Selanjutnya Eros disibukkan dengan berbagai kegiatan penggarapan musik film terutama film-film yang dibesut Teguh Karya. 

Walaupun disibukkan menggarap music score untuk film layer lebar,     sebetulnya Eros Djarot tetap melakukan kolaborasi dengan komunitas musik Pegangsaan.

Saat itu Erros pun sering bertandang ke kediaman Guruh Soekarno Putera di Jalan Sriwijaya 26 Jakarta.Energi kreativitas Erros dalam dunia musik pun kian menggelegak.Apalagi Guruh akan melakukan kolaborasi musik eksperimen bertajuk Guruh Gipsy  .”Saya banyak mengajukan sumbangan ke gagasan baik ke Guruh maupun Keenan” ungkap Erros Djarot.

Menurut Erros beberapa lagu-lagu karyanya banyak yang tercipta saat berada di Jalan Pegangsaan Barat 12 maupun di Jalan Sriwijaya 26. Lagu-lagu itu kemudian men jadi bagian dari album Barong’s Band serta album soundtrack “Badai Pasti Berlalu” .

Beberapa lagu dengan tema romansa pun tercipta yaitu “Angin Malam”,”Khayalku”dan “Cintaku”.”Ketiga lagu ini memang tercipta saat saya intens bermain di Pegangsaan.sedangkan lagu “Pelangi” dan “Semusim” justeru tercipta ketika saya main di rumah Guruh di Jalan Sriwijaya” ungkap Eros Djarot perihal gagasan awal munculnya album Badai Pasti Berlalu yang menjadi soundtrack film”Badai Pasti Berlalu” besutan Teguh Karya.

Erros bahkan menampilkan torehan lirik lagu yang romantis tanpa terjebak dengan pola-pola yang standar: patah hati berkepanjangan, meratap-ratap, dan cengeng.Pada akhirnya Badai Pasti Berlalu menjadi fenomenal.Menjadi album tonggak dalam sejarah musik pop Indonesia.”Saya bahkan tak menyangka Badai Pasti Berlalu bisa  menjadi album yang terus diperbincangkan orang” tukas Erros .

Musik dan Film pada akhirnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam raga Erros Djarot.Selain meraih Piala Citra dalam FFI 1976 untuk peiñata musik terbaik,di tahun 1978 pada FFI 1978 Erros Djarot kembali meraih Piala Citra.Walupun demikian Erros tetap menolak disebut sebagai pemusik.”Bagi saya Idris Sardi tetap meruapakan pemusik yang berkompeten.Kalo saya hanya seorang penggagas yang didukung oleh orang orang yang tepat pada bidangnya” jawab Erros.

Dalam wawancara dengan majalah Aktuil no.233 edisi 13 Juni 1977 Erros Djarot berkomentar seperti ini “Kalaulah jadi sutradara saya nggak mau sebesar Teguh Karya,nggak mau sebesar Wim Umboh atau Sjumandjaja.Saya pengen sebesar Akira Kurosowa atau Roman Polanski.Buat apa segitu aja.Ini kan cita cita ? .

Tekadnya untuk menyusup ke dunia film terlihat ketika Erros berhasil memperoleh beasiswa sinematografi di London dari British Council.Erros tampaknya serius menekuni dunia perfilman ,tanpa harus mengenyampingkan kiprahnya di dunia musik

Obsesinya menggarap film pada akhirnya berbuah bukti ketika film “Tjoet Nja’ Dhien” yang dibesutnya pada tahun yang didukung Christine Hakim dan Slamet Rahardjo berhasil meraih Citra sebagai Film Terbaik Festival Film Indonesia 1988. 

Dan Erros Djarot adalah sosok seniman yang senantiasa membalur karya-karyanya dengan nasionalisme, entah itu music maupun film.

 

 

BOX

PARA SAHABAT KREATIF ERROS DJAROT

Aktor handal Slamet Rahardjo Djarot adalah kakak kandung Erros Djarot yang kerap disebut sebagai sahabat kreatif Erros Djarot dalam berkesenian entah itu film maupun musik.

“Sejak kecil saya dan Erros selalu tampil bersama dalam upaya upaya penciptaan seperti membuat mobil-mobilan atau sangkar burung.Saya dikenal rapi dalam membuat,tapi Erros selalu tampil dalam pemikiran dengan gagas-gagasan yang cemerlang” urai Slamet Rahardjo sang kakak yang hanya terpaut satu tahun usaianya dengan sang adik Erros Djarot.

Kebersamaan antara Slamet Rahardjo dan Erros Djarot ini akhirnya kian nyata setelah keduanya mulai terjun ke dunia seni.”Saya memilih teater dan film.Erros ternyata memilih musik dan juga akhirnya ke film juga” imbuh peraih beberapa Piala Citra dalam Festival Film Indonesia itu.

Slamet Rahardjo selalu menyebut sosok adik kandungnya itu sebagai sahabat dalam proses kreatif.”Sejak kecil kita berdua sudah terbiasa dengan kegiatan semacam ini.Biasanya terjadi semacam diskusi di meja makan.Erros itu anak cerdas,pintar dan ekstrovert.Beda dengan saya yang introvert dan merasa kurang pandai.Jadi diantara kita berdua terjadi semacam simbiose mutualisme.Saling membutuhkan satu dengan yang lain” ungkap Slamet Rahardjo (61 tahun).

Sejak kecil ,menurut Slamet Rahardjo, ayah mereka Djarot Djojo Prawiro seorang perwira TNI AU telah menanamkan perilaku demokrasi terhadap anak-anaknya.”Yang saya ingat  Erros mengidolakan Bung Karno.Saya rasa nasionalisme yang diperlihatkan Erros  dalam berkarya entah itu dalam musik dan film serta politik,berasal dari ideologi  yang ditawarakn Bung Karno “ tukas Slamet Rahardjo.

Erros Djarot memang banyak melontarkan berbagai gagasan-gagasan diantaranya pernah member gagasan pidato yang akan diucapkan sang ayah pada saat upacara di kantornya.

Debby Nasution,adik Keenan Nasution yang dikenal sebagai keyboardis handal,teramsuk salah satu sahabat kreatif Erros Djarot.’Bagi saya Erros itu adalah orang yang membuat saya lebih bersemangat dalam membuat karya-karya music.Wawasannya dalam dunia seni sangat luas.Dia fasih ngomong apa saja muali dari film,teater hingga seni lukis.Saya sendiri saat itu banyak mendengar referensi musik dari koleksi album milik Erros seperti   King Crimson,Ekseption,Emerson Lake and Palmer.Saya dan Erros banyak bekerjasama dalam membuat music dan lagu untuk album Barong’s Band hingga Badai Pasti Berlalu” komentar Debby Nasution.

Yang patut dicatat bahwa Erros Djarot adalah sosok dengan sejuta gagasan yang kemudian secara kolektif bersama sahabat-sahabat kreatifnya menjelma menjadi sebuah mahakarya.

“Erros tak pernah mengakui karyanya adalah hasil pemikirannya sendiri.Dia selalu menyebutkan nama-nama orang yang senantiasa bahu membahu dengannya menyelesaikan sebuah karya” kata Slamet Rahardjo lagi.

 

 

 

 

BOX

KARYA-KARYA TERBAIK ERROS DJAROT (1975 -2009)

Kawin Lari (Nirwana,1975)

Ini debut Erros Djarot bersama Barong’s Band sekaligus merupakan debutnya sebagai penata musik film layar lebar “Kawin Lari” yang dibesut Teguh Karya.Musik yang ditampilkan Erros bersama Barong’s ini memang bercitarasa pop  seperti “Bisikku”,”Belinda”,”Oh Wanita”,”Jakarta” ,”PelukMu” dan “Lagu Perdamaian” serta nuansa Betawi lewat lagu “Stambul Kembang Mawar” dan “Perahu Layar” yang dinyanyikan oleh Titi Qadarsih dan Slamet Rahardjo.Dua lagu bergaya keroncong ini ditulis Erros Djarot bersama Benny Benhardi serta lirik yang ditulis Teguh Karya.Sebuah album yang sangat kuat perangai Indonesianya.

Barong’s Band (Nirwana 1976)

Album  bertajuk  "Barong's Band” ini agak  cenderung bergaya progressive rock seperti yang terdengar pada  "Negara Kita",”Moral”,"Halleluyah","Narkotika" serta sebuah lagu yang dikemas dalam beat tango yaitu "Superstar Tango".Album ini memang banyak menyiratkan pesan pesan sosial. Debby Nasution  dengan pengaruh kuat dari permainan keyboard Rick van Der Linden, pemusik Belanda yang pernah membentuk kelompok Ekseption dan Trace.Gauri Nasution sendiri banyak terpengaruh pola permainan gitar Jan Akkerman,gitaris Belanda yang pernah mendukung kelompok Focus. Lirik lagu dan tema musik Barong's Band memang menjanjikan sesuatu.Intuisi Erros dalam menggurat lirik lirik yang tajam memang patut digarisbawahi.Disini telah terlihat bahwa Erros Djarot  memang tak hanya bergelimang musik,tapi memiliki visi kebangsaan yang kuat melekat.

Badai Pasti Berlalu (Irama Mas 1977)

Album fenomenal yang menjadi tonggak musik pop Indonesia yang menampilkan keterpaduan antara musik dan lirik.Pemunculan album ini memiliki momen yang tepat di saat industri musik saat itu lebih mementingkan komersialisme dibanding idealism.Album yang diinspirasikan dari soundtrack film “Badai Pasti Berlalu” ini juga membawa inspirasi dalam konstelasi musik pop Indonesia.Erros dengan tangan dinginnya mengarahkan album ini menjadi sebuah album yang tetap dikenang di sepanjang zaman.Didukung Yockie Suryoprayogo (keyboard,drums,arranger),Chrisye (vokal,bass,gitar),Berlian Hutauruk (vokal),Debby Nasution (keyboard,arranger) dan Keenan Nasution (drums).Lagu-lagu seperti “Pelangi”,”Merpati Putih”,”Badai Pasti Berlalu”,”Semusim”,”Cintaku”,”Khayalku”,”Merepih Alam”,”Serasa” dan “Angin Malam” menjadi hits yang masih disukai penikmatnya hingga sekarang ini.

Kembalikan Masa Depanku (Musica’s  Studio’s 1983)

Sosok Erros Djarot seperti seorang penyaksi yang tengah melakukan perjalanan jurnalistik di album ini.Pengalamannya berada di beberapa tempat di luar negeri seperti Jerman dan Prancis banyak mengilhami tema penulisan lagu-lagu di album yang bernuansa muram dan gundah.Mungkin ini album Erros Djarot  yang terasa lebih gelap.Ada lagu tentang pejuang Zimbabwe Rhodesia yang diasingkan ke Prancis dalam lagu “Joe Gumede”.Lalu ada “Kisah dari Berlin” yang bertutur tentang serdadu Hoffmann yang diajukan ke pengadilan militer karena dianggap membantu rakyat Jerman Timur yang mengungsi ke Jerman Barat.Juga ada kisah tentang pengungsi Kamboja dalam “Kembalikan Masa Depanku”.Sebuah lagu bernuansa satir tentang negeri ini tersemat dalam lagu “Makbet” (Rimba Hijau) yang terinspirasi dari lakon karya William Shakespeare.

Manusia Manusia (Musica Studio’s 1985)

Walaupun tidak seberat tema yang diangkat dalam album “Kembalikan Masa Depanku”,album solo kedua Erros Djarot init oh masih tetap membingkai potret kehidupan sosial yang tercerabut dalam kehidupan sehari hari semisal lagu “Sipenmaru” yang mengkritik perihal dunia pendidikan negeri ini.Erros pun masih menghadirkan tema romansa seperti pada lagu “Andai Bulan” maupun “Selamat Tinggal”.Didukung sederet  pemusik yang selama ini mengitari Erros sebagai sahabat kreatif semisal Yockie Suryoprayogo,B.Haryadi,Uce Haryono dan Fariz RM.   

Resesi (Musica Studio’s 1983)

Triumvirat Erros Djarot,Chrisye dan Yockie berbaur lagi di era 80-an setelah menghasilkan “Badai Pasti Berlalu” (1977).Di album ini baik Erros,Chrisye dan Yockie kembali mengupayakan menghadirkan lagu-lagu dalam dua kutub tema yaitu romansa dan kritik sosial.Lagu lagu seperti “Resesi” hingga “Money” memang bertutur tentang keadaan ekonomi dan sosial yang menukik turun.Sensitivitas sosial memang lekat dalam bentuk lirik yang digurat Erros.Tapi album ini pun berisikan lagu-lagu romansa yang meneduhkan seperti “Malam Pertama”,”Sentuhan Cinta” maupun “Di Batas Akhir Senja” bahkan lirik yang mengandung nilai spritualisme seperti “Anak Manusia” dan “Hening”.   

Karena Cinta Kita Ada ( Platinum 2009)

Apa boleh buat, karya terbaru Erros  Djarot  ini mesti dibanding-bandingkan dengan pencapaian Erros dalam album soundtrack film Badai Pasti Berlalu pada 1977. Setidaknya karena tema yang digurat, seperti halnya Badai Pasti Berlalu, masih tetap seputar cinta. Komposisi dan struktur notasi yang diangsurkan Erros berkarakter Eropa, seperti halnya pada lagu-lagu Semusim, Merpati Putih, atau Badai Pasti Berlalu, dalam album Badai Pasti Berlalu.

Pembedanya, yang utama, album Karena Cinta Kita Ada dibingkai dengan anasir orchestra oleh peñata music Andi Rianto  serta gaya menyanyi yang lebih serius dan klasikal. Simaklah, lagu Bisikku, yang dinyanyikan Lucky Octavian, terasa lebih berat jika dibanding versi orisinalnya, yang dinyanyikan Erros bersama iringan Barong's Band, dalam album soundtrack Kawin Lari (Nirwana Record, 1976).Lagu ini ditulis Erros sekitar 33 tahun silam di sebuah sudut kota Paris saat ia memintal tali kasih dengan sang kekasih.Di album ini Berlian Hutauruk tampil paripurna dengan lagu “Ketika Cinta Kehilangan Kata”.
 

Tjoet Nja’ Dhien (Kanta Indah Film 1989)

Sebuah epik sejarah tentang perjuangan Tjoet Nja Dhien,wanita perkasa Aceh yang dengan pendirian yang keras dan kukuh memerangi penjajah Belanda.Perang adalah pilihan yang tak bisa ditawar lagi oleh Tjoet Nja Dhien yan g diperankan secara brilian oleh aktris Christine Hakim.Slamet Rahardjo berperan sebagai Teuku Umar.

Perang antara rakyat Aceh dan tentara Kerajaan Belanda ini menjadi perang terpanjang dalam sejarah kolonial Hindia Belanda.Tjoet Nja Dhien akhirnya tumbang setelah dikhianati justeru oleh kawan setianya Pang Laot  (diperankan actor Pietrajaya Burnama) yang merasa iba terhadap kondisi kesehatan Tjoet Nja Dhien yang kian menyurut.

Ini adalah film pertama Erros Djarot sebagai sutradara yang menuai prestasi dengan memperoleh Piala Citra sebagai Film Terbaik Festival Film Indonesia 1988.

 

Kantata Takwa (Kantata Film 2008)

Film yang "dipendam" sekitar 18 tahun ini merupakan film musik yang banyak menyentuh zona lain selain musik sebagai menu utama.Saya pun berpendapat bahwa musik tak hanya mampu menghibur kalbu kita,tapi juga mampu "menggerakkan" jiwa kita,nurani kita.Dibesut Erros Djarot dan Gotot Prakoso.

Dan "Kantata Takwa" tak hanya sekedar dokumentasi dari sebuah proyek kolosal dari seorang maecenas bernama Setiawan Djody,melainkan menaburkan banyak pesan pesan sosial dan budaya.

Tumpukan misteri gelap dalam kancah politik yang terjadi di negeri ini memang banyak mengguyur adegan-adegan yang membelit dari konser yang berlangsung grand dan megah di Stadion Utama Senayan Jakarta pada tahun 1990.

Melihat kelebat adegan yang diramu dengan atmosfer surrealis kita mungkin tersadar bahwa rezim Orde Baru telah banyak meninggalkan tikas-tikas yang diinginkan tak berbekas.

Meski berbalut unsur teaterikal,tapi magma pertunjukan yang berlangsung super kolosal itu bisa kita nikmati dalam gambar gambar yang memikat.Disini kita bisa melihat bagaimana sosok Iwan Fals yang bagaikan "panglima" mampu menertibkan massa fanatik yang mulai .

FILMOGRAFI

1.Kawin Lari (1975) – Music Score

2.Perkawinan Dalam Semusim (1976) – Music Score

3.Badai Pasti Berlalu (1977) – Music Score

4.Kembang Padang Kelabu (1980) – Music Score

5.Usia 18 (1981) – Music Score

6.Di balik Kelambu (1982) – Music Score

7.Pengantin Remaja II (1982) – Music Score

8.Ponirah Terpidana (1983) – Music Score

9.Kembang Kertas (1984) – Cerita Film

10.Secangkir Kopi Pahit (1985) – Music Score

11.Bila Saatnya Tiba (1986) – Music Score

12.Kodrat  (1987) – Music Score

13.Tjoet Nja’ Dhien (1988) – Sutradara.

14.Marsinah (2000) – Skenario

15.Kantata Takwa (2008) - Sutradara

 

 

 

 

 

 
 

Blog EntryAug 27, '10 1:14 PM
for everyone
Dari jam 21.00 hingga 22.00 WIB barusan Jumat 27 Agustus 2010  ada suguhan jazz di Cafe Au Lit Cikini Raya.Ada Dewa Budjana (gitar),gitaris GIGI yang tadi sore baru saja tampil di Karawang dalam rangka konser Ngabuburit bareng GIGI.lalu ada Arief Setiadi (saxophone) dan Riza Arshad (piano) dari simakDialog.Ketiganya tampil dgn membawakan beberapa karya standar diantaranya karya Herbie Hancock seperti Maiden Voyage dan Dolphin Dance.Dua komposisi yang sudah dileretkan sebagai karya jazz standart ini berasal dari album "Maiden Voyage" yang dirilis Blue Note pada 17 Mei 1965.
Kebetulan saya sangat menyukai komposisi ini.Sayangnya trio Budjana,Arief dan Riza ini bermain di tengah hiruk pikuk cafe.Menikmati permainan mereka memang harus bersitegang dengan bunyi bunyi blender kopi yang tengah diracik bartender hingga tertawa berkepanjangan dari arah beberapa meja yang ternyata diisi oleh sebuah kelompok yang tengah reuni SMP.Ah....Memang sangat mengganggu.Tapi toh kenikmatan jazz tetap merasuk jiwa penikmatnya yang kerap memberi aplause setelah trio ini menyudahi tiap lagu yang dimainkan.

Blog EntryAug 20, '10 10:45 PM
for everyone
Kamis 19 Agustus Kang Ibing,pelawak,penyanyi,pencipta lagu dan da'i asal Jawa Barat telah berpulang kerahmatullah.
Inna llilahi wa inna ilaihi rojioun
Selamat Jalan kang Ibing

Blog EntryAug 19, '10 11:30 PM
for everyone

Tak Sekedar Musik Tapi Gerakan Kebudayaan

 

Tengoklah hiruk pikuk industri musik negeri ini. Band band bersesakan dengan warna yang cenderung seragam. Amatlah sukar menerka jatidiri sebuah band. Lalu tiba-tiba muncullah sebuah band yang menampilkan sikap dan konsep yang berbeda. Sejatinya ketika semua orang berbaju hitam, dan muncul seseorang berbaju merah maka pastilah semua mata tertuju pada sosok yang berbusana beda. Mungkin demikianlah analogi yang tepat disematkan pada band baru bernama Montecristo. Sebuah band yang ikwalnya muncul karena dililit kegelisahan dalam menghasilkan karya-karya musik yang lebih tertata, terkonsep dan terpadu. Kegelisahan demi kegelisahan yang mereka temui inilah sebetulnya pangkal menguaknya kreativitas dalam bermusik.

 

Terbentuk pada tahun 2007 dan mulai memancangkan jatidiri sebagai Montecristo setahun berselang. Dimulai dengan ajakan Rustam Effendy pada Eric Martoyo dan Fadhil Indra untuk membentuk band. Ketiganya datang dari latar belakang yang berbeda. Rustam adalah seorang karyawan sebuah perusahaan multinasional, Eric adalah orang bisnis dan Fadhil Indra adalah pemusik yang memperkuat Discus, Makara dan KJP. Niat ngeband saat itu hanya sebatas ngejam belaka. ”Kami cuma ingin menghilangkan stress dgn ngeband”, kata Rustam. Baginya, bukanlah tidak ada masalah dengan skill bermain musik jika ingin melangkah menjadi musisi professional, namun dia merasa yakin dengan didukung perspektif bermusik rekan-rekan yang diajaknya, band yang diidamkan bisa terwujud. Kemudian muncul Haposan Pangaribuan (bass), Alvin Anggakusuma (gitar) dan Keda Panjaitan (drum). Ketiga pemusik ini bisa dianggap sebagai pemberi warna modern dalam rhythms section Montecristo. Perpaduan antara musik rock klasik era 70-an dan rock era 90-an, menjelmalah konsep utuh Montecristo.

 

Seperti apa sesungguhnya musik Montecristo? “Misi kami adalah menyampaikan pesan. Dan pesan ini akan lebih efektif jika melebur dalam alunan musik”, ungkap Eric Martoyo yang didapuk sebagai vokalis utama Montecristo. Menurut Eric, dalam repertoar Montecristo lirik lagu adalah bagian yang sama pentingnya dengan tatanan musik. Jadi tak heran jika muatan lirik merupakan anasir yang mencolok dalam sajian musik Montecristo. Mereka dengan berani mengangkat tema-tema besar dalam lingkup sosial, politik, ekonomi dan kemanusiaan tanpa mesti harus mengeyampingkan tema romansa.”Sebagian besar lirik Montecristo justru diangkat dari true event”, imbuh Fadhil Indra.

 

Konsep musik Montecristo, menurut Fadhil yang menjabat music director adalah hard rock dengan sentuhan rock progresif yang simfonik. Sub Genre yang terdekat yang dimainkan Montecristo adalah Symphonic Progressive,yang menuai pesona pada era 70-an silam.

 

Nama Montecristo sendiri diambil dari merk  cerutu kegemaran Eric Martoyo.”Kami lalu sepakat memilih Montecristo sebagai nama band karena enak didengar, mudah dilafalkan dan yang penting mudah diingat” urai Eric Martoyo.

 

Dari kacamata Fadhil sebagai music director, Montecristo dibangun diatas tatanan human senses para personilnya, mulai dari kekuatan instrumentalis maupun kekuatan dalam kesatuan band. Rasa bermusik itu dikembangkan secara natural agar sisi manusiawinya juga ikut terasa. Fadhil yang punya pengalaman bermain  musik rock progresif di Discus dan Makara percaya bahwa senyawa yang baik antar personilnya akan menghasilkan sinergi yang optimal untuk menetaskan sebuah karya musik yang bisa dipertanggungjawabkan secara kualitas tanpa harus melalui rekayasa teknologi.

 

Menariknya, semua lagu dalam album Montecristo bertajuk “Celebration of Birth” ditulis dalam lirik berbahasa Inggris. Kenapa berbahasa Inggris? “Kami menganggap lirik adalah bagian penting untuk mencapai tujuan dan dengan lirik bahasa Inggris maka message dalam lagu-lagu Montecristo akan bisa menjangkau lebih banyak pendengar, tidak hanya orang Indonesia saja” ujar Eric Martoyo yang paling banyak menulis lirik lagu Montecristo. Eric Martoyo adalah penggemar karya-karya sastra Khalil Gibran, Ernest Hemingway, WS Rendra hingga Pramoedya Ananta Toer. Demikian juga Rustam yang menyukai karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Fadhil sendiri selain jebolan IKJ, juga kuliah di Sastra Indonesia UNAS. Begitu pentingnya Montecristo menempatkan harkat penulisan lirik hingga dalam liner notes-nya sendiri tertera tagline Life is a never ending poem.

 

Pada akhirnya Montecristo tak hanya sekedar sebuah band penyaji musik saja melainkan sebuah gerakan kebudayaan. Ini ditegaskan lewat gaya bermusiknya yang menyempal dari arus besar (mainstream). Menurut Eric  Martoyo : ”Ini adalah sebuah stimulus bagi berkembangnya kebudayaan agar tidak seragam, sekaligus mengajak kita melihat keberagaman agar kebudayaan menjadi lebih kaya. Lirik-liriknya yang intelektual dan sarat kandungan filosofis merupakan wujud kepedulian Montecristo pada perkembangan sosial budaya. “.

Sebagai sebuah gerakan kebudayaan,Montecristo mengupayakan album “Celebration Birth” bisa diakses oleh siapa saja termasuk di mancanegara. Montecristo bahkan telah mengirimkan album perdananya ke perpustakaan Cornell University di Ithaca, New York dan Library of Congress di Washington DC dan telah masuk dalam catalog online mereka di http://lccn.loc.gov/2010436368. Album ini juga telah dikirim ke beberapa perpustakaan universitas di Australia yang memiliki studi tentang Indonesia.

 

1.      Ancestral Land

Bertutur tentang seorang gadis keturunan Cina di Indonesia yg semangatnya ‘terbakar’ oleh propaganda pemerintah Cina pada saat itu. Pada tahun 1952 dengan menumpang sebuah kapal, dia pulang ke tanah leluhurnya. Namun tak lama berselang kondisi sosial-politik di Cina berubah secara drastis. Kelaparan melanda seantero negeri selama bertahun-tahun karena gagal panen berkepanjangan membuat rakyat Cina tidak ‘welcome’ terhadap para pendatang. Gadis ini kemudian dituduh sebagai spionase yg sengaja datang ke Cina untuk memata-matai negara itu. Sejak itu hidupnya berubah menjadi sebuah tragedi yg panjang. Musik yang dimainkan Montecristo terasa seperti music score yang  mengikuti pola naratif. Piano dan orkestrasi mengimbuh suasana secara integral.

 

2.      About Us

   Ambience distorsi gitar menguak lagu yang diikuti bunyi piano. Sebuah perpaduan ragam rock 70-an dan 90-an yang ekspresif. Lagu ini memang ingin bertutur tentang keragaman latar belakang personil Montecristo. Beberapa tokoh tokoh besar masa lalu seperti Alexandre The Great, Mahatma Gandhi hingga Temujin memperkuat makna lirik yang ditulis Eric Martoyo. Terasa bagai sebuah epic tentang kedigdayaan sosok sosok manusia di dunia ini.

 

3.      A Romance of Serendipity

   Orkestrasi rock seperti yang pernah dibesut almarhum Michael Kamen seolah menyelusup dalam score lagu ini dengan sajian interlude bernuansa rock progresif. Liriknya bertutur tentang cinta yg tersia-siakan. Diawali oleh sebuah pertemuan yg kebetulan dan kemudian tumbuh menjadi cinta yg dalam. Si gadis akhirnya menghadapi kenyataan bahwa cintanya tidak mungkin bisa dipersatukan dan dia hanya menjadi “orang nomor dua” saja. Walaupun pahit, akhirnya dia memutuskan untuk pergi. Pada pertemuan terakhir, tepat sebelum dia pergi, si gadis menolehkan muka untuk menengok kekasihnya untuk yg terakhir kali... lalu menghilang. Tema lagu ini seolah ingin menebalkan sebuah frasa bahwa kita baru akan menyadari seberapa besar cinta kita terhadap seseorang setelah kita kehilangan orang tersebut.

4.      Garden of Hope

    Lagu ini bertutur tentang negeri kita di era reformasi yang justru menjadi tambah tak tentu arah. Keputusasaan, pesimis dan hilangnya semangat hidup. Di sisi lain para politisi hanya menjual janji-janji belaka. Sebuah potret muram negeri kita yang hingga kini masih terpampang di depan mata kita semua. Di bagian introduksi berpadu bunyi perkusi dan piano. Harmoni choir-nya mengingatkan kita pada gaya klasik kelompok progresif Inggris Yes.

 

5.      Celebration of Birth

   Sebuah gaya rock progresif era 70-an ala Kansas mencuat dalam aransemen lagu ini. Perpaduan gitar elektrik dan akustik menggelitik pendengaran kita untuk ingin menelusuri perihal tema lagu ini sebenarnya. Bertutur tentang dialog antara seorang ayah dengan anaknya yang baru saja lahir. Sebuah narasi humanis tersemburat di lagu ini. Bahwa sang ayah bercerita mengenai dunia yang indah dan damai di saat sang anak masih kecil ,tapi juga bisa berubah menjadi dunia yang lebih kompleks dan penuh intrik saat sang anak beranjak dewasa nanti.  Sebuah lagu dengan lirik yang padat makna.

 

6.      In Touch of With You

   Lagu ini ditulis oleh Fadhil Indra dengan memunculkan perpaduan piano akustik dan chamber musik pada bagian introduksinya. Sebuah romansa kasmaran yang menggelegak tapi terlarang. Gitaris Alvin Anggakusuma memperlihatkan karakter permainan yang memadai pada bagian interlude. Tak salah jika penikmat mengasosiasikan permainan gitar Angga pada gaya psychedelic blues Pink Floyd.

 

7.      Crash

   Mungkin ini merupakan lagu dengan tema yang jarang terfikirkan para penulis lirik yaitu tentang runtuhnya bursa saham di seluruh dunia. Kebetulan Eric sang penulis lirik adalah seorang investor saham dimana saat lagu ini ditulis nilai investasinya hanya tersisa 25% dari nilai semula. Lirik lagu ini pun mengutip pendapat pemenang Hadiah Nobel Ekonomi Amartya Kumar Sen: ”The only good reason to want wealth is because it produces freedom”. Tema besar ini didukung dengan apik oleh perpaduan sound keyboards progresif era 70-an dengan riffing gitar rock era 90-an.

 

8.      Forbidden Song

 Lirik lagu ini memang ingin bertutur tentang bersemainya rasa cinta tapi sayangnya dalam aura yang terlarang. Sebuah frasa yang bisa terjadi pada diri siapa saja. Simak liriknya:

 

Don’t let the love turn to hate. If I’m right or if I am wrong

It was just forbidden song. Nothing’s wrong

 

Musiknya sendiri seperti ingin mengangkat kembali supremasi hard rock 70-an.

 

9.      Clean

    Lagu ini ditulis oleh Fadhil Indra tentang sosok lelaki yang baru saja terbebas dari jerat narkotika. Orkestrasi melumuri beberapa bagian aransemen musiknya, mengingatkan kita pada nuansa ala Yes. Namun rhythm sectionnya justru terasa lebih masa kini terutama perpaduan antara bass dan drum yang ekspresif.


Blog EntryAug 2, '10 8:35 AM
for everyone

Telah meninggal dunia sahabat saya pemusik Jimmy Paais (Symphony,Jakarta Rhythm Sections) hari ini Senin 2 Agustus sekitar jam 18.00 WIB di RS Mintohardjo Bendungan Hilir.Semoga arwahnya diterima disisi Nya. Amin.

Selamat Jalan Jimmy.....! We missed you !


Blog EntryJul 28, '10 11:23 AM
for everyone

Di Balik Melejitnya Keong Racun

  • Sinta dan Jojo Kewalahan
SYNDROM star bisa terjadi kepada siapa pun dan kapan saja. Apalagi di era internet dewasa ini, setiap orang, tanpa terkecuali, di mana pun berada bisa mempromisikan diri lewat jejaring sosial yang tersedia di dalamnya. Demikian diyakini pemerhati musik Denny Sakrie mengomentari fenomena meledaknya rekaman video ”Keong Racun” di youtube yang dibawakan secara lipsinc oleh Sinta dan Jojo.

Di tangan dua mahasiswi di salah satu universitas swasta di Bandung itu, singgel ”Keong Racun” yang sejatinya dalam versi asli dinyanyikan Lisa, melejit bak meteor.

Dalam irama tarling, lagu yang berkisah tentang sosok laki-laki yang nyaris minus sopan santun dalam memperlakukan perempuan yang baru dikenalnya itu, diunduh lebih dari 70 ribu orang. Popularitas Sinta dan Jojo pun langsung mengorbit. Hingga menjadikan dirinya sangat dikenal di Bandung dan Jakarta.

Bahkan sebuah komunitas bernama Keong Racun Community dibuat di jejaring perkawanan facebook. Memang, selain ”Keong Racun”, ada beberapa singgel hit lain yang mereka lipsinc  kemudian diunggah sendiri di youtube. Di antaranya ”Slowdown Baby”, ”Telephone”, ”Bete”, dan ”Bukan Cinta Biasa”. Tapi entah mengapa, ”Keong Racun” yang menjadi topic trending.
Iseng Belaka Apa yang istimewa dari aksi playback Sinta dan Jojo dalam melagukan ”Keong Racun”? Sebagian penikmat tayangan youtube menilai karena kelucuan, kepolosan serta kecantikan dua gadis Bandung itu. Tapi sebagian lain ada juga yang menilai karena kenorakan, kekampungan bahkan keusilannya. Meski sebagaimana diakui Sinta dan Jojo, awalnya mereka tidak berniat mengunggah aksinya di youtube.

Hanya karena proses mengunggahnya di facebook senantiasa gagal, maka tidak ada cara selain mengunggah di youtube untuk kemudian diteruskan di facebook.

Tapi siapa sangka, jika aksi mereka yang kenes dan menggemaskan itu, justru berhasil menarik perhatian ribuan netter (pengguna internet). Bukan semata alunan musik tarling yang pekat dengan nuansa house music, yang dalam bahasa Ian Antono, gitaris God Bless yang pernah mengatakan bahwa musiknya repetitif dan jauh dari nuansa estetis, justru sanggup membuat orang untuk bergoyang.

Apa pun itu, popularitas yang sekarang menghinggapi Sinta dan Jojo terjadi karena proses simplifikasi mempromosikan diri lewat internet. Meski konsekuensi populer itu juga tidak mudah, sebagaimana yang sekarang mulai dirasakan Sinta dan Jojo, yang pada awalnya berangkat dari keisengan belaka. Betapa pun popularitas seperti pisau bermata dua. (Benny Benke-75)

Blog EntryJul 26, '10 12:50 AM
for everyone
"Saya bukan penyanyi......" itu kalimat sakti Erros Djarot yang kerap keluar dari mulutnya,setidakn ya pada tahun 1975 atau 1976 saat lelaki yang bernama asli Soegeng Djarot ini tampil di depan publik bersama Barong's Band,band anak Indonesia yang terbentuk di Koeln Jerman Barat pada awal era 70-an.
Dan kalimat sakti itu keluar lagi dari mulut Erros Djarot dihadapan banyak tamu yang menghadiri acara terbatas "35 Tahun Erros Djarot Berkarya" di Lunar Lounge Pondok Pinang Jakarta Selatan.
Setidaknya kalimat sakti itu bisa menjadi jembatan excuse kalo Erros bernyanyi tak merdu,tidak pitch dan lain sebagainya.
Dalam perhelatan yang banyak dihadiri kerabat Erros dari kalangan pemusik,seniman,budayawan,
politikus,wartawan dan entah apa lagi,itu pada umumnya penasaran ingin mendengar suara Erros Djarot.Karena saya yakin tak semua orang pernah menyimak album Barong's Band yang jumlahnya dua biji itu atau pun album solo Erros di paruh era 80-an yang jumlahnya juga cuma dua biji itu.
Selama ini khlayak hanya mengetahui bahwa Erros adalah kreator utama dari album soundtrack film "Badai Pasti Berlalu" (1977) yang melejitkan pula sosok Chrisye maupun Berlian Hutauruk.
Walaupun sejak awal 70-an pernah ngeband dgn berbagai band mulai dari Chekink II hingga berlanjut ke band yang terbentuk di Jerman seperti Kopjaeger dan Barong's Band,Erros tetap merasa dirinya bukan pemusiki yang sesungguhnya."Saya ini pemimpi" itu kalimat yang kerap pula muncul dari mulutnya manakala ada yang menanyakan ikhawl musikalitas Erros Djarot.
Malam itu,yang sempat diguyur hujan,terlihat beberapa pemusik mulai dari Franki Raden hingga Iwan Fals.
Pada saat perjamuan makan malam di kotak speaker terdengar lagu protes Erros Djarot yang dirilis sesudah lengsernya Soeharto pada Mei 1998 silam,lagu itu bertajuk "Janganlah Menangis Indonesia".Lagu itu dinyanyikan oleh wartawan Detik,tempat Erros memimpin sebuah media cetak.Tapi lagu itu memang banyak yang tak mengenal.Suasana kian riuh dengan aroma nostlagia sambil mencicipi makanan yang tersedia melimpah.
Lalu putera Erros Banyu Biru tampil ke panggung menjadi mat cuap alias MC.Memperkenalkan sosok ayahnya yang malam itu genap berusia 60 tahun.Kakak kandung Erros,Slamet Rahardjo pun naik ke pentas bertutur tentang adiknya itu.
Berlanjut dengan sajian musik dari para penyanyi masa kini seperti Farman,Anissa dan Lea Simanjuntak yang membawakan lagu lagu karya Erros dari album "Tribute to Erros Djarot" (2009).Sayangnya Berlian Hutauruk yang tertera dalam undangan akan tampil tak terlihat batang hidungnya.Juga Yockie Suryoprayogo maupun Fariz RM,dua pemusik yang terlibat pembuatan album "Badai Pasti Berlalu" dulu.
Slamet Rahardjo kemudian tampil membawkan lagu dengan nuansa laid-back jazz "Sendiri Menembus Malam".Konon lagu ini khusus ditulis Erros untuk dinyanyikan abang kandungnya itu.
Erros kemudian mengambil alih posisi sebagai penyanyi.Tak tanggung tanggung kalo gak salah sekitar 6 lagu dijajalnya dengan dukungan Gauri Nasution (gitar|),Debby Nasution (keyboard) dan Harry Minggoes (bass).Sepintas formasi ini mengingatkn kita pada formasi Barong's Band yang tampil di TIM pada tanggal 14 Mei 1976 silam.
Dibuka dengan lagu "Pelangi" dari album Badai.Debby memetik gitar akustik.Erros pun menyanyi.Beberapa penonton malah ikut bernyanyi .Disela-sela penampilannya Erros bertutur tentang lagu-lagu yang dinyanyikannya seperti "Angin Malam","Khayalku|","Semusim".Lalu berlanjut ke lagu yang bernuansa geram "Negeriku Cintaku|".Lagu yang dipopulerkan Keenan Nasution ini ditulis oleh Debby Nasution dan Erros Djarot pada tahun 1976.Liriknya pun provoke :

Hei kaum muda masa kini
Kita berantaslah korupsi
Jangan kau biarkan mereka
Menganiayai hati kita

Keenan Nasution hanya tersenyum melihat Erros menyanyikan lagu itu dengan penuh semangat di panggung.Aroma prog-rock menyeruak dari permainan keyboard Debby Nasution yang banyak terpengaruh gaya Rick Van Der Linen,pemain keyboards grup prog-rock Belanda Ekseption.
Erros masih melanjutkan lagi penampilannya dengan lagu "Tuhan" yang diambil dari album Barong's Band di tahun 1976.
Hiburan malam itu masih berlanjut."Berikutnya kita akan dengharkan lagu dari Doddy Soekasah.Tapi gak boleh bawa lagu The Beatles ya.Malam ini harus nyanyi lagu karya sendiri" pinta Erros.
Doody pun membwakan lagu karyanya yang dulu pernah dinyanyikan Didi Mirhard,Debby Nasution maupun Keenan Nsution.Sayang saya tidak ingat judulnya.
Jam 23.00 saya pulang karena masih ada tugas yang belum terselesaikan.Tapi pesta 35 tahun Erros masih berlanjut.Dari sms saya dapat berita bahwa malam itu Iwan Fals didaulat tampil ke pentas di penghujung acara.
Selamat deh buat om Erros Djarot yang kini genap 60 tahun.Jangan berhenti berkarya.

Blog EntryJul 22, '10 11:27 AM
for everyone
Minggu lalu dapat undangan dari Erros Djarot yg hari ini 22 juli berulangtahun.Undangan Erros itu adalah "35 tahun Erros Djkarot Berkarya" yg berlangsung besok 23 Juli.Menariknya karena akan tampil Erros Djarot main bareng sohib-sohibnya seperti Debby Nasution,Yockie Suryoprayogo,Berlian Hutauruk,Fariz RM,Keenan Nasution,Gauri Nasution dan Oding Nasution,Doddy Soekasah,Slamet Rahardjo,Harry Anggoman,Onan Gipsy serta generasi kini Andi Rianto,Lea Simanjuntak,Farman,Anissa dan Lucky.....

Blog EntryJul 20, '10 11:39 AM
for everyone
Kapanlagi.com - Malam penghargaan Indonesia Cutting Edge Music Awards 2010 (ICEMA) berlangsung dengan sukses tadi malam di The Epicentrum Walk Kuningan Jakarta. Pesta bagi komunitas musik non-mainstream Indonesia yang dihadiri oleh berbagai kalangan mulai dari para musisi, kalangan industri rekaman, media massa dan tentunya penggemar setia band-band non-mainstream ini, berakhir tepat pukul 00.00 WIB.


Acara yang dipandu dengan cerdas oleh Soleh Solihun ini mengumumkan satu demi satu band atau musisi solo favorit yang dipilih oleh publik di setiap kategorinya. ICEMA 2010 membagi genre musik ke dalam 20 kategori di mana 5 nominator di tiap kategorinya bersaing merebut voting penggemar.


Seratus nama, dari 139 nominator di tahap pertama voting, terus melaju ke tahap kedua voting dan akhirnya sampai di malam puncak, berkat tingginya jumlah suara publik yang diperuntukkan bagi mereka.


"Dukungan penggemar setia menentukan nasib seluruh nominator dan bagaimana mereka bisa bertahan hingga tahap akhir program ICEMA 2010. Publik saat ini sudah sedemikian kritis dan matang dalam memberikan apresiasi pada karya-karya musik, sesuai selera mereka. Kami, atas nama Panitia ICEMA 2010, angkat topi pada seluruh nominator yang selalu bermusik dengan jujur dan bebas dari kredo apa pun. ICEMA menjadi wadah yang tepat untuk mereka," cetus Denny Sakrie, pengamat musik senior Indonesia yang juga Ketua Dewan Kategorisasi ICEMA 2010 saat konferensi pers acara.


Ia juga mengatakan bahwa malam penghargaan ICEMA 2010 adalah malam selebrasi bagi seluruh insan musik Indonesia, tanpa istilah menang atau kalah.


"ICEMA 2010 mencatat tidak kurang dari 396.265 pengunjung yang mengunjungi www.icema.co.id dalam waktu hanya 2 bulan saja. Program ini juga secara sukses menarik partisipasi 828 band baru yang ambil bagian dalam Kategori Pendatang Baru," demikian dijelaskan oleh Adhi Djimar, Strategic Planning Director MACS909 yang juga adalah Project Director ICEMA 2010.


"ICEMA 2010 melibatkan 42.000 orang fans yang memberikan dukungan pada band atau musisi favorit mereka. Tingginya antusiasme publik ini membuktikan kekuatan media sosial online dalam membuka komunikasi dua arah dan dalam menghimpun dukungan. Kekuatan Microsoft terletak pada kemampuannya menghubungkan, menginspirasi dan menyederhanakan hidup melalui kekuatan piranti lunak dan internet. Melalui platform Windows Live, kami membuka akses penggemar pada band-band favoritnya di ICEMA. ICEMA betul-betul program yang tepat untuk mendemonstrasikan keunggulan Microsoft Windows Live." kata Craig Law-Smith, Marketing Director, Online Service Group Microsoft Asia Pacific, pendukung utama program.


Tingginya respon para pendatang baru dalam Kategori Best New Comer, diseleksi oleh mitra media program 101.4 Trax FM Jakarta dan menghasilkan sejumlah nama sebagai favorit pilihan penggemar yaitu Stereocase, Monkey to Millionaire, Angsa & Serigala, Murasaki, Waza, Stereo Conspiracy, Windro Marietta & Friends, King of Panda dan Lipstick Lipsing. Band-band non-mainstream yang baru memperkenalkan diri ini tidak hanya berasal dari Jakarta tetapi juga dari Bandung, Semarang, Yogyakarta bahkan Bali.


Puncak penghargaan diberikan kepada Efek Rumah Kaca yang melalui album KAMAR GELAP meraih predikat The Best Album. Penghargaan khusus lainnya diberikan kepada Pas Band sebagai Inspiring Artist dan Fariz RM sebagai penerima Lifetime Achievement. Fariz RM dianggap mendobrak musik Indonesia di zamannya dan tidak pernah berhenti berproses kreatif dengan musisi-musisi muda hingga kini.


Malam penghargaan ICEMA 2010 menampilkan sejumlah band non-mainstream seperti Pure Saturday, Burger Kill, The Flowers, Adrian Adioetomo, Tika & The Dissidents, The Trees & The Wild, Kunokini, Jiung, Gambang Kromong, Yacko & Gugun, Souljah, Endah N Rhesa, Ras Muhammad, Superglad, The Authentics, Notturno, Anda, Leonardo, Mian Tiara, Efek Rumah Kaca, The Upstairs, Goodnight Electric, dengan penampilan penutup penuh kejutan yaitu kolaborasi antara Indra Lesmana, Adrian Adioetomo dan The Flowers.


Kehebohan malam penghargaan ICEMA 2010 ini menjadi trending topic di Twitter yang diikuti oleh para tweeps di seluruh dunia. Sementara itu live streaming ICEMA 2010 di www.icema.co.id disaksikan oleh tidak kurang dari 11.000 viewers dari seluruh dunia termasuk dari Amerika Serikat dan Australia.


Malam tersebut menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan dunia musik non-mainstream di Indonesia yang bukan hanya sebuah malam apresiasi musik non-mainstream tetapi juga malam selebrasi bagi seluruh komunitas musik Indonesia. Sampai bertemu di ICEMA 2011!     (kpl/prl/npy)

Blog EntryJul 6, '10 12:30 PM
for everyone
Libur telah tiba,libur telah tibaHore,Hore,Hore
Simpanlah tas dan bukumu
Lupakan keluh kesahmu
Libur telah tiba,libur telah tiba
Hatiku gembira!
Lagu ini sampai detik ini masih terngiang ngiang dikuping.Suara Tasya yang polos pada sekitar tahun 2000an menyanyikan lagu yang ditulis oleh Abdullah Totong Mahmud atau kerap dipanggil pak AT Mahmud.Saat itu,masih segar dalam ingatan,puteriku tercinta Fiqa Rizki Amaliyah yang masih duduk di TK hampir saban hari menyanyikan lagu itu.Fiqa mengikuti suara Tasya yang keluar dari cakram padat rilisan Sony Wonder,sublabel yang dib entuk Sony Music Indonesia saat itu khusus untuk menampung lagu anak-anak.Dian HP menata lagu itu dengan indah dan memikat.Saat itu kehidupan sehari-hari pak AT Mahmud yang agak memprihatinkan perlahan seperti memperoleh udara segar.Karya karyanya dipakai Sony Wonder antara lain untuk dinyanyikan Tasya.
Dan saya pun terhenyak ketika mendapat sms dari pak Jan Djuhana dari Sony Music yang mengabarkan pak AT Mahmud telah pergi.Dia pergi untuk selamanya.AT Mahmud meninggal dalam usia 80 tahun karena mengidap penyakit infeksi paru-paru.Dia menghembuskan nafas terkahir di kediamannya di Jalan Tebet Barat II A Jakarta Selatan.AT Mahmud pada akhirnya telah menjalani liburan untuk selamanya dari hiruk pikuk dunia.Pak A|T Mahmud pergi disaat hampir tiap anak-anak kini hampir tak mengenali lagi lagu anak-anak.Tak satupun stasiun TV yang menyisakan ruang lagi untuk lagu anak anak yang murni.Bahkan kompetisi seni vokal yang diikuti anak-anak pun semuanya kini hanya menyanyikan lagu lagu remaja dan dewasa yang jauh dari kehidupan anak-anak sehari.Betul betul miris dan memilukan.
Untunglah Fiqa.anak saya masih sempat menikmati masa kecil yang lucu dan menggemaskan dengan mendengarkan lagu anak-anak.Bahkan lagu anak anak yang pernah saya senandungkan di akhir era 60-an itu juga dinyanyikan Tasya dan kembali dinyanyikan oleh puteri semata wayang saya itu.
Sekitar jam 22.32 saya mendapat pesan singkat dari Riri Riza,sahabat saya yang pernah menggarap film anak anak “Petualangan Sherina”.Isi sms-nya begini :”Sedih juga,sy jarang sekali jumpa dia,dulu waktu Petualangan Sherina pernah 2 X.Tp sy selalu ingat beliau.Kemarin sy ganti satus FB : Libur tlah tiba,yg adalah lagu pak AT Mahmud .Hari ini ia wafat .”
Bukan hanya saya,pak Jan Djuhana atau Riri Riza yang sedih.Kita semua merasa kehilangan beliau.Sosok lelaki bijak yang seumur hidupnya mendedikasikan diri sebagai pencipta lagu anak-anak.Bayangkan sebuah pilihan yang tak semua orang mampu melakukannya.Tapi pak AT Mahmud memilih sekaligus menjalaninya.Tanpa pamrih.Disaat kini,dimana disetiap tetes keringat kerap ditakar dengan materi,masih ada orang orang mulia seperti pak AT Mahmud
Dia pantas jadi teladan kita.
Selamat liburan yang kekal pak AT Mahmud,kami pun pasti akan menyusul liburanmu.Amin

Blog EntryJul 6, '10 7:35 AM
for everyone

Judul Lagu    : Kolam Susu

Penyanyi       : Koes Plus

Pencipta        : Yok Koeswoyo

Label             : Remaco

Tahun           : 1973

“Kolam Susu” bisa jadi merupakan ungkapan nasionalisme Yok Koeswoyo bassist dan vokalis Koes Plus terhadap negeri ini.”Bayangkan betapa kita tak cinta Indonesia.Kita bagai di surge,tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman.Ikan pun menghampiri kita” ungkap Yok Koeswoyo yang kini lebih banyak menghabiskan waktu di Pandeglang Banten bersama para petani.

Yok Koeswoyo mempunyai hobi memancing.Dengan menggunakan sebuah boat Yok bahkan memancing di lautan lepas pantai .Saat itu,di tahun 1972,Yok bertemu dengan orang Jerman yang juga tengah memancing.Tiba tiba orang Jerman ini berkata pada Yok : “ Kamu harus bangga,Indonesia bagaikan kolam susu yang besar”   .Sejenak Yok tercenung dan mengiyakan apa yang dikatakan orang Jerman tadi.Dan seketika naluri kesenimanannya menggeliat.Yok Koeswoyo  lalu terilhami untuk membuat sebuah lagu.”Judulnya langsung muncul di kepala saya……Kolam Susu” tutur Yok Koeswoyo yang kini telah memutih rambutnya.

“Keinginan saya untuk menuliskan lagu yang menggambarkan kekayaan Indonesia ini kian menjadi setelah berkunjung ke pulau Susuk di wilayah Attambua Nusa Tenggara Timur pada tahun itu juga “ tambahnya lagi.

“Kolam Susu” lalu dinyanyikan sendiri oleh Yok Koeswoyo dengan musik yang bernuansa pantai : reggae , dalam album Koes Plus Vol.8 di tahun 1973  .Ini merupakan album pertama Koes Plus setelah dikontrak Remaco dan menjadi popular dimana-mana terutama “Kolam Susu” yang tetap dikenang orang hingga kini.


Judul Lagu    : Kolam Susu

Penyanyi       : Koes Plus

Pencipta        : Yok Koeswoyo

Label             : Remaco

Tahun           : 1973

“Kolam Susu” bisa jadi merupakan ungkapan nasionalisme Yok Koeswoyo bassist dan vokalis Koes Plus terhadap negeri ini.”Bayangkan betapa kita tak cinta Indonesia.Kita bagai di surge,tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman.Ikan pun menghampiri kita” ungkap Yok Koeswoyo yang kini lebih banyak menghabiskan waktu di Pandeglang Banten bersama para petani.

Yok Koeswoyo mempunyai hobi memancing.Dengan menggunakan sebuah boat Yok bahkan memancing di lautan lepas pantai .Saat itu,di tahun 1972,Yok bertemu dengan orang Jerman yang juga tengah memancing.Tiba tiba orang Jerman ini berkata pada Yok : “ Kamu harus bangga,Indonesia bagaikan kolam susu yang besar”   .Sejenak Yok tercenung dan mengiyakan apa yang dikatakan orang Jerman tadi.Dan seketika naluri kesenimanannya menggeliat.Yok Koeswoyo  lalu terilhami untuk membuat sebuah lagu.”Judulnya langsung muncul di kepala saya……Kolam Susu” tutur Yok Koeswoyo yang kini telah memutih rambutnya.

“Keinginan saya untuk menuliskan lagu yang menggambarkan kekayaan Indonesia ini kian menjadi setelah berkunjung ke pulau Susuk di wilayah Attambua Nusa Tenggara Timur pada tahun itu juga “ tambahnya lagi.

“Kolam Susu” lalu dinyanyikan sendiri oleh Yok Koeswoyo dengan musik yang bernuansa pantai : reggae , dalam album Koes Plus Vol.8 di tahun 1973  .Ini merupakan album pertama Koes Plus setelah dikontrak Remaco dan menjadi popular dimana-mana terutama “Kolam Susu” yang tetap dikenang orang hingga kini.

Denny Sakrie

(Dikutip dari "150 Lagu Terbaik Indonesia" versi Rolling Stone Indonesia)


Blog EntryJun 29, '10 10:25 AM
for everyone
                   

 

Sesungguhnya tak ada istilah mainstream dan nonmainstream untuk musik.Karena musik tetaplah musik.Yang musik akhirnya hanya bisa dikategorikan atas musik yang dibikin dengan kreativitas maksimal dan musik yang memang dibikin asal-asalan . Ketika merebak terminoloogi cutting edge music,kemungkinan hanya untuk membedakan terhadap asumsi yang berpendar.Penolakan karya musik dari industri musik arus besar jua lah yang setidaknya memicu munculnya gerakan gerakan musik  secara independen.Gejala ini lumrah dan sebetulnya telah terjadi bahkan sejak era 50-an disaat musik  mulai tumbuh kembang.

Menjadi kian menarik ketika mencuat sebuah penghargaan seperti yang digaungkan Indonesia Cutting Edge Music Award (ICEMA).Karena di ajang ini sejumlah karya karya musik yang kerap dianggap marginal memperoleh sebuah apresiasi.Menjadi sebuah parameter terhadap elemen elemen musik yang telah dinikmati penikmatnya.Ruang ini menjadi kian menarik karena ternyata begitu banyak terdeteksi karya-karya yang memiliki nilai-nilai apresiatif selama ini justeru terabaikan oleh kuping khalayak.Kenapa ini terjadi ? Penolakan-penolakan secara substansial dari pelaku industri massal inilah yang menjadi tersekatnya katup distribusi musik secara menyeluruh. Mereka ini sesungguhnya adalah band-band Indonesia yang justeru telah berkibar popularitasnya secara internasional.Mereka memang hampir tak pernah muncul dalam tayangan TV.Tak semua radio memutar karya mereka bahkan prestasi mereka nyaris tak mendapat tempat di berbagai media cetak mainstream .Namun para pemusik,yang kemudian kita sebut pemusik indie ,justeru survive dari lingkup komunitas yang tersebar diberbagai kota di Indonesia seperti Jakarta,Bandung,Surabaya,Semarang,Yogyakarta,Solo,Makassar, Malang hingga Bali. Pergaulan musik para pemusik indie ini kian melebar jauh hingga ke zona internasional juga merupakan terbentuknya komunikasi antara komunitas dari berbagai negara yang disatukan oleh komunikasi internet.

Tak heran jika Microsoft dengan sofistikasi Windowslive menaruh minat luarbiasa terhadap gerakan yang dilakukan oleh para pemusik yang selama ini berkarya dalam geliat gerilya.Ajang ICEMA ini merupakan sebuah terobosan yang tak berlebihan jika disebut sebagai salah satu pengejawantahan industri  musik di masa depan.Hiruk pikuk komunitas independen dalam bermusik ini memang kian riuh saja.Meskipun industri music secara global tengah menghadapi keterpurukan secara kronis,toh mereka tak pernah bias lepas dan melepaskan diri dari musik.

 

Kegiatan musik independen memang memiliki aura yang berlainan.Sebagaian besar diantara mereka justeru tak melihat indie label sebagai sebuah wacana musik belaka. Melainkan memiliki pesona personal yang menyusupkan aura passionate dalam mempromosikan pelbagai musik yang berada dibawah payung nonmainstream. Dengan wawasan dan sudut pandang yang berbeda tak sedikit bila hasil produk indie label justeru lebih disukai oleh para artis dan band dikarenakan mereka bisa jauh lebih bebas berekplorasi dan berekspresi secara musikal disana .Patut pula dicatat bahwa ,dalam situasi status quo dimana  industri musik kurang nyaman dan cenderung kian  luluh lantak,beberapa label indie toh masih bisa survive .Mereka masih merilis album-album dengan kemasan yang tetap menomorsatukan kaidah artistik sarat estetika.

Kantung kantung komunitas yang merupakan pijakan utama menggeliatnya gerakan gerakan musik ini adalah paru paru sekaligus denyut nadi dari pelbagai kegiatan-kegiatan bermusik yang secara signifikan memicu kreativitas.Setidaknya ini menyiratkan bahwa telah terjadi pergeseran dalam tatanan industri music di era millennium ini.Jika dahulu setiap pemusik atau band mempunyai ketergantungan yang tinggi pada label-label besar,kini mereka – para pemusik – justeru memiliki posisi tawar yang tinggi, karena mereka melakukan semuanya secara mandiri.Tak ada campur tangan dalam sekat kreativitas dari para investor misalnya.Dengan kata yang lebih tepat,setiap pemusik dan band justeru yang mampu menentukan kemana arah karir musik mereka bergulir. Menyusupnya kemajuan teknologi dalam dunia Informasi dan Teknologi merupakan sebuah medium yang banyak memberikan pelbagai kemungkinan-kemungkinan.Pengguna dunia maya yang mandiri sejak menyeruak di paruh era 90-an ini terlihat sangat memanfaatkan kecanggihan teknologi komunikasi dan informasi ini.Melalui medium internet,para pemusik dan penggiat musik indie melakukan ritual sosialisasi,membentuk komunitas sekaligus membuat peluang bisnis yang hampir tak tersentuh pikiran di era sebelumnya.Pergaulan itu  pun pada akhirnya mulai meruntuhkan sekat berupa  batas negara dan bangsa. Tengoklah  jumlah entry yang masuk pada saat penyaringan awal pengkategorisasian yang dilakukan Dewan Kategorisasi ICEMA yaitu sekitar 400 entry yang kemudian menjelma menjadi deretan nominasi untuk kemudian memasuki tahapan voting secara langsung oleh para penikmat musik.

Voting dalam ICEMA ini mungkin tak akan sama dengan voting massal ala kompetisi musik  yang kerap kita saksikan dalam tayangan-tayangan televisi.Voting dalam ICEMA jelas merupakan semacam dukungan atas rekomendasi-rekomendasi yang telah diakomodir oleh para anggota Dewan Kategorisasi.Jadi jelas bahwa para voters telah mengetahui dengan pasti item musik yang masuk dalam nominasi. Chris Anderson  menulis gejala ini sebagai filter  penyaring nilai kualitas : "the catch-all phrase for recommendations and other tools that help you find quality” dalam chapter “The Power of Collective Intelligencedalam buku “The Long Tail” (2006).Mengapresiasikan karya karya musik cutting edge dalam “Indonesia Cutting Edge Music Award” (ICEMA)  justeru  akan banyak memberi  ragam rona dalam industri musik kita yang secara kasat mata sering dianggap seragam .


Blog EntryJun 28, '10 10:43 AM
for everyone
Inilah album ke 8 Titiek Sandora di tahun 1970 bertajuk "Mimpi Diraju".Lagu "Mimpi Diraju" tak lain adalah lagu " Je t'aime... moi non plus" yang dipopulerkan Jane Birkin dan Serge Gainsbourg pada tahun 1969.Lagu yang mendesah desah ini memang bernauansa erotik.Tapi entah kenapa pihak Remaco lalu meminta jasa penulis lirik Usyi untuk mengganti liriknya dengan bahasa Indonesia.Meskipun agak "tersipu-sipu" toh Titiek Sandora membawakan lagu ini dengan suaranya yang dibuat genit.Judulnya pun diubah menjadi "Mimpi Diraju".
Ah ada ada saja nih orang doeloe kala !